Senin, 22 Desember 2008

Kyoto Veteran Has Deja Vu

Iain Murray
December 18, 2008

Rep. Jim Sensenbrenner was present at the Kyoto negotiations back in 1997, and predicted their failure because of the inability to get the developing nations like China to commit to emissions reductions. He has recently returned from the Poznan Conference of the Parties aimed at drawing up Kyoto II, and is of the opinion that nothing has been learned from history. He has set out his concerns in a letter to President-elect Obama (copy below).

Of course, in many ways the developing nations are right to object to the imposition of emissions restrictions. Emissions represent the fastest way out of poverty for their peoples. That's why, as I argue here, we need to think again and move away from the emissions reduction paradigm as the only solution to the global warming risk. Nevertheless, Rep. Sensenbrenner is to be congratulated for calling attention to at least one reason why the current approach is doomed to failure.

Letter follows.

+++++

The Honorable Barack Obama

President-Elect of the United States

451 6th St., N.W.

Washington, D.C. 20002

Dear Mr. President-Elect:

On November 18, speaking by videotape to the Bi-Partisan Governors’ Global Climate Summit, you invited Members of Congress who would be attending the 14th Conference of Parties of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) in Poznań, Poland to report back to you on what they learned there. I have just returned from serving as the only Member of the U.S. House of Representatives to observe the negotiations and the only Member of Congress to observe the entire final week. I am happy to accept your invitation.

By way of background, I currently serve as the Ranking Republican Member of the Select Committee on Energy Independence and Global Warming, a committee created by House Speaker Nancy Pelosi in the 110th Congress to study policies, strategies and technologies to substantially and permanently reduce emissions that contribute to global warming. I have attended three prior UNFCCC Conferences of Parties and led the U.S. House delegation to Japan, which observed the 1997 negotiations that produced the Kyoto Protocol.

I am deeply concerned that the current negotiations, which are intended to lead to a new international treaty to replace the Kyoto Protocol next year in Copenhagen, are recreating Kyoto’s fatal flaws. Specifically, any treaty that does not include legally binding and verifiable greenhouse gas emissions reductions from developing countries will not be ratified by the U.S. Senate because it will not accomplish the fundamental goal of reducing global emissions.

You are aware of the Byrd-Hagel Resolution, which the U.S. Senate adopted by a 95-to-0 vote on July 25, 1997, expressing the sense of the Senate that the U.S. should not be a signatory to an agreement that does not include specific scheduled commitments to limit greenhouse gas emissions for developing countries or will result in serious harm to the U.S. economy. Because the Kyoto Protocol failed to satisfy these requirements, neither President Clinton nor President Bush submitted the treaty to the Senate for ratification. At a meeting in Poznań, Senator John Kerry and Vice President Al Gore agreed that an international treaty must include mandatory emissions reductions from developing countries.

The current negotiations seem to be leading toward a similarly flawed outcome. At another meeting in Poznań, I met with negotiators from foreign countries, including China and India. These countries, the first and third largest CO2 emitters in the world, clearly stated that they would not accept legally binding emissions reductions.

The impasse that international negotiators have reached indicates that a new strategy is necessary. I am eager to assist you in emphasizing that, without legally-binding, verifiable commitments from all nations, global reductions in greenhouse gas emissions are neither scientifically nor politically achievable.

I look forward to scheduling a more detailed briefing.

My best wishes to you and your family during this holiday season.


Sincerely,


F. James Sensenbrenner


Sumber: http://www.globalwarming.org/
KOMPETISI DESAIN DAN PENULISAN WEB / BLOG: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3

Sabtu, 20 Desember 2008

Kampanye Hemat Energi, Efektifkah ?

A Susana Kurniasih (Suara Pembaruan)

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berusaha menekan pertumbuhan permintaan tenaga listrik dengan cara mengkampanyekan penggunaan lampu hemat energi. Efektifkah cara ini ?

anajemen PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pusing tujuh keliling. Target pertumbuhan listrik yang dicanangkan hanya sebesar enam persen per tahun di Jawa, selalu terlewatkan. Padahal, dengan alasan kondisi ekonomi sedang tidak baik, pelanggan masih keberatan membayar tarif listrik sesuai harga keekonomiannya.

Akibat pertumbuhan yang pesat, cadangan listrik yang dimilikinya makin cepat berkurang, bahkan lebih rendah dari cadangan normal yang seharusnya ada, yakni 30 persen.

Berencana membangun pembangkit baru dengan kekuatan finansial sendiri, sungguh tidak mungkin karena kemampuan perusahaan tak ada. Sementara mengundang investor pun masih sulit dilakukan karena rendahnya tarif.

Tingkat kepanikan PLN makin tinggi ketika pada Januari 2003 lalu terbetik kabar realisasi pembangunan PLTU Tanjung Jati B di Jawa Tengah terancam terlambat lagi. Padahal proyek itu dijadwalkan untuk menyelamatkan pasokan listrik di Jawa pada 2005.

Ganjalan realisasi proyek adalah aturan dari Departemen Perindustrian yang menginginkan agar investor pelaksana proyek melakukan imbal dagang ketika mendatangkan peralatan dari luar negeri untuk membangun proyek itu.

Keharusan itu membuat Sumitomo, si pelaksana proyek merengut. Mereka keberatan karena saat negosiasi, kewajiban itu tidak pernah dibicarakan. Sementara kalau kewajiban itu diikuti, Sumitomo harus melibatkan pihak ketiga. Maklum, ia bukan importir. Akibatnya, perusahaan pun juga harus mengeluarkan dana ekstra.

PT PLN, yang bakal menjadi mitra Sumitomo ikut khawatir menunggu penyelesaian masalah ini. Sebab keterlambatan proyek akan membawa dampak yang cukup mengkhawatirkan.

Contoh nyata telah terjadi. Ketika realisasi pembangunan Tanjung Jati B mundur satu tahun karena skema pendanaannya belum disetujui pemerintah, PLN harus menyiapkan sumber listrik baru untuk menambal kekurangan listrik di Jawa pada tahun itu. Untuk itu, pada tahun 2003 BUMN itu harus pontang-panting mencari pinjaman dan mengeluarkan obligasi, untuk membangun 6x100 MW PLTU Muara Tawar di Jawa Barat.

"Padahal keberadaan PLTU Tanjung Jati B belum menutup seluruh kekurangan pasokan listrik di Jawa. Pada tahun 2005 masih ada kekurangan 400 MW. Setahun kemudian masih akan ada kekurangan 900 MW," kata Direktur Utama PT PLN, Eddie Widiono beberapa waktu lalu.

Hemat Energi

Agar rongga kekurangan tidak semakin besar, PT PLN mulai mengkampanyekan program-program untuk hemat energi listrik yang harus diproduksinya. Salah satunya adalah mengkampanyekan program lampu hemat energi ke rumah tangga kecil, yakni RI 450 VA dan 900 VA.

Sasaran dijatuhkan pada kelompok pelanggan ini karena jumlah mereka lah yang paling banyak, yakni mencapai 18 juta pelanggan. Padahal mereka hanya menggunakan listrik pada sore hari, yakni pada saat beban puncak.

Direktur Operasi PT PLN, Tunggono menargetkan pada tahun 2003 kelompok pelanggan ini akan mengganti 20 juta titik lampu yang digunakannya dengan lampu hemat energi. Kalau target tercapai, maka akan ada penghematan konsumsi listrik sebesar 640 MW pada saat beban puncak.

Bagi PLN, penghematan sebesar ini sangat besar dampaknya karena berarti bisa menghemat investasi di sisi pembangkitan, karena 600 MW itu setara PLTU Tanjung Jati B yang bakal menghabiskan investasi US$ 2,5 miliar.

Di sisi lain, konsumen juga akan diuntungkan karena rekening listriknya akan turun. Hitungannya, satu bohlam lampu 40 watt diganti dengan lampu hemat energi 8 watt, maka akan ada penghematan 32 watt. Dengan tarif rata-rata Rp 300 per KwH, maka setiap bulan satu titik lampu yang digantikan itu akan menghasilkan penghematan sekitar Rp 2.500, atau tepatnya Rp 32.000 per tahun.

Agar target tercapai, PLN akan memberikan subsidi kepada pelanggan Rp 3.000 per lampu, sehingga harganya menjadi sekitar Rp 12 ribu per buah. Namun pelanggan yang berhak mendapatkan diskon hanyalah pelanggan rumah tangga kecil 450 VA dan 900 VA. Sepanjang tahun 2003, setiap pelanggan hanya berhak membeli tiga buah bohlam lampu.

Cara mendapatkannya, setiap pelanggan datang ke loket pelayanan PLN di daerah masing-masing dengan membawa rekening listrik bulan sebelumnya. Setelah rekening dicocokkan dengan data administrasi kami, pelanggan bisa mendapatkan bohlam lampu yang disubsidi tersebut.

Untuk itu, PLN juga telah menjalin kerja sama dengan lima produsen lampu hemat energi, yakni Philips, General Electic, Osram, Chiyoda dan National.

"Mereka akan memberikan kemasan khusus pada lampu hemat energi ini," kata Tunggono. Selain itu semua produsen akan memberikan garansi selama satu tahun kepada konsumen bila ternyata lampu yang dijualnya tidak bisa digunakan selama 6.000 jam pemakaian atau sekitar empat tahun.

Efektifkah ?

Namun Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia, John Manoppo menyangsikan efektivitas program yang digelar PLN itu. Berkaca pada hasil program serupa yang digelar pada tahun lalu, Manoppo bahkan memperkirakan lampu hemat energi yang akan terjual pada tahun ini hanya 35 persen dari target PLN. Penyebabnya, harga lampu terlalu mahal.

"Tahun lalu, ketika PLN mulai mengenalkan program lampu hemat energi dan menjualnya pada harga Rp 19.000, yang terjual hanyalah 300.000 buah lampu. Padahal pelanggan PLN mencapai 30 juta dan diperkirakan ada 120 juta titik lampu," katanya pesimistis. Agar target tercapai, Manoppo mengusulkan agar PLN memberi diskon yang lebih besar lagi, bahkan kalau memungkinkan subsidinya Rp 12 ribu per buah lampu, sehingga pelanggan hanya membeli pada harga Rp 3 ribu. Manoppo yakin subsidi yang besar ini tidak akan merugikan PLN karena hanya akan memaksa BUMN itu mengeluarkan dana Rp 240 miliar.

"Dana itu masih jauh lebih kecil dibanding kalau PLN harus membangun pembangkit berkekuatan setara listrik yang dibutuhkan untuk menyalakan 20 juta titik lampu 40 watt," katanya.

Keuntungan lain yang bakal diperoleh Indonesia, produsen-produsen lampu akan berinvestasi di Indonesia untuk memproduksi lampu hemat energi. Kalau permintaannya masih rendah seperti saat ini, Indonesia malah akan menguntungkan Cina, sebagai sentra produsen lampu hemat energi Asia Pasific saat ini.

Catatan Aperlindo, produsen lampu di Indonesia seperti Philips, GE dan Osram saat ini hanya memproduksi lampu pijar. Sementara yang memproduksi lampu hemat energi hanyalah Chiyoda Focus dan Matsushita Lighting Indonesia. Itupun sangat sedikit.

Sebagai gambaran, setiap tahun Cyoda yang bernaung di bawah bendera PT Sinar Angkasa Rungkut memproduksi 215 juta lampu pijar, 60 juta lampu neon dan 10 juta lampu hemat energi. Sementara Matsushita Lighting Indonesia yang memproduksi merek lampu National Panasonic memproduksi 7 juta lampu neon dan 5 juta lampu hemat energi.

"Jadi kalau pemakaian lampu sangat terbatas, barang Cina akan makin banyak yang masuk Indonesia. Bisa-bisa hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah buruh pabrik lampu di Indonesia," kata Manoppo.

Sebagai catatan tambahan, 80 persen konsumsi lampu hemat energi yang dikonsumsi Indonesia pada tahun 2002 masih didatangkan dari Cina. Mereka masuk secara legal maupun ilegal.*

Sumber : Suara Pembaruan

Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3




Wah senang-nya saya tau ketika kompas ngadain Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3. Soalnya udah beberapa bulan ini saya belajar membuat template blog. Diawali dengan membuat classic template hingga akhirnya membuat xml template, dan saya juga sudah membuat blog penyedia template gratisan di: freexmltemplate.blogspot.com, walaupun belum sempurna, tapi lumayan sebagai pemula (bukan bermaksud untuk promosi). Template blog saya sendiri menggunakan classic template.

Kompetisi Anak Muda yang diadakan kompas ini disponsori oleh IM3. Saya sangat bangga dengan IM3, yang sudah berada di garda depan dalam mengkampanyekan stop "Global Warming". Sukses buat IM3.

Sedikit bercerita, tema Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 adalah "Jadilah Sahabat Bumi". Tema yang bagus untuk saat ini, soalnya sekarang kita ngeliat banyak orang yang ga lagi peduli dengan kondisi bumi saat ini, dari mulai hal-hal kecil seperti buang sampah sembarangan, sampai hal-hal yang besar seperti industri yang membuang limbah sembarangan.

Belum lagi penggunaan listrik yang berlebihan oleh beberapa orang yang ga peduli akibatnya. Saya ingin menceritakan pengalaman saya di kos (maklum saya ini masih kuliah). Ada beberapa teman yang menggunakan komputer mereka secara berlebihan, mulai dari pagi dengarin musik, trus siang main game sampe malem, dilanjutkan dengan lagu tidur sampe pagi. 24 Jam komper nyala terus. Klo ditegur buat hemat listrik, eh malah jawabnya, "kan kita udah bayar listrik ke ibu kos, Rp. 20.000,-/bulan, kita pake apa ga, sama aja bayarnya segitu.

Saya katakan, bukan masalahnya kita udah bayar apa belum, tapi setidaknya kita bisa hemat energi sebagai bukti bahwa kita peduli terhadap bumi ini. Klo semua orang berpikiran seperti teman saya tadi, saya tidak bisa membayangkan penggunaan listrik di indonesia ini.

Itu baru masalah listrik, belum lagi masalah asap kendaraan. Beberapa teman entah gengsi atau apa buat nebeng motor sama teman satu kos-nya, padahal satu tempat kuliahan. Saya sekarang kulian di Kota Gudeg, Jogjakarta, saya melihat pengguna sepeda motor tiap tahunnya meningkat, padahal pemerintah sudah menyediakan Trans Jogja untuk transportasi.

Ah, udah, curhatnya sampe di sini dulu, Kita kembali ke informasi Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3.

Ada satu tantangan buat teman-teman, selain bentuk desain dan kualitas tulisan yang bagus, yaitu: Blog kita harus ter-index oleh Google dengan kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3.

Sudah dua bulan ini dari semenjak kompetisi ini dikumandangkan, kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, lagi rame dipake dibeberapa blog, maklum ini adalah kata kunci kebruntungan, siapa yang naruh kata kunci ini di blognya dan berhasil muncul di nomor pertama google, bakal dapat hadiah dari mudaers.com.

Maklum, panitia kompetisi memberikan bocoran penilaian sebagai berikut:

Penjurian akan dilakukan dari Kompas MuDA dan Kompas.com. MuDA mau kasih bocoran penilaian dari juri nih. Salah satu metode yang digunakan untuk menilai web kamu adalah popularitas web di mesin pencari Google.

Cara yang akan digunakan adalah dengan mengetikkan kata kunci : Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3. Nah,. di Google nanti akan muncul web-web peserta lomba. Karena itu, kata kunci ”Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3” ini harus ada di halaman web kamu.
Peringkat yang bagus akan ikut menentukan nilai web kamu. Salah satu pesan yang ingin disampaikan MuDA adalah: kamu boleh saja buat tulisan bagus dan desain yang hebat, tapi kalau tak terindeks oleh Google atau tak punya popularitas di mesin pencari, ya percuma saja kawan.

Satu lagi, bocoran penilain:

Kompetisi ini menggabungkan antara kualitas tulisan dan kualitas desain (50% : 50%). Jadi yang tidak jago desain tetap punya peluang. Sebaliknya yang tidak jago nulis tapi hobi nge-blog dan jago desain, bisa punya peluang menang.

Web yang dilombakan minimal harus ada satu halaman yang berisi tulisan dengan tema "Jadilah Sahabat Bumi". Boleh menulis apa pun mulai hal-hal kecil terkait lingkungan kamu yang bisa menggugah minat orang untuk membaca.

Hehehe.. Termasuk blog saya juga pake kata kunci ini, persaingannya sangat ketat, beberapa blog udah nangkring di nomor satu. Klo teman-teman mau ikut kompetisi website kompas muda im3 silahkan kunjungi situs mereka di http://mudaers.com/, siapa tau kalian yang dapat juara. Batasnya ampe tanggal 20 Januari 2009. Hadiahnya lumayan, bisa buat traktir bakso teman-teman kalian..

Namun, entah gimana caranya panitia menilai bila template sebuah blog diambil dari website penyedia template gratisan. Kasian tuh teman-teman yang punya desain sendiri malah kalah sama yang pake template orang lain. Trus untuk isi tulisan blog, ada beberapa tulisan di blog hasil copy-paste dari blog lain.

Tapi panitia katanya punya cara sendiri:

Catatan khusus: untuk lomba desain web/blog ini, mengingat banyaknya kasus web/blog yang menggunakan tampilan sama (template sama), maka jika juri kesulitan menentukan pemenang I, II, III, Juri HANYA akan mencari lima besar website dengan nilai hadiah merata yaitu masing-masing Rp 1.000.000.

O ia, setiap kompetisi kan pasti ada hadiahnya, hadiah sebagai berikut:

Pemenang I : Uang Tunai Rp 3.000.000 Plus Hadiah Menarik Lainnya
Pemanang II: Uang Tunai Rp 2.000.000 Plus Hadiah Menarik Lainnya
Pemenang III: Uang Tunai Rp 1.000.000 Plus Hadiah Menarik Lainnya

Bila informasi di blog ini masih kurang, teman-teman bisa mengunjungi website mudaers.com sebagai penyelenggara Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 ini. Soalnya selain kompetisi website ada kompetisi-kompetisi lain yang teman-teman bisa ikuti, lumanya selain bakat kamu tersalurkan, kamu juga bisa dapat hadiah bila menang. Pribahasanya: Sambil menyelam minum air.

Kamis, 18 Desember 2008

Menjadi Sahabat Bumi yang Baik

Klo ditanya: Apa sih arti dari sebuah persahabatan?

Masing-masing orang pasti punya pendapat yang berbeda, nah klo saya ditanya arti dari sahabat, maka saya menjawab:

"Sahabat adalah orang yang bisa menemani dan menjaga kita, di saat kita susah atau senang. Sahabat adalah dia yang tidak membuat kita kecewa, tidak menyakiti kita, dan selalu saling menghargai".

Trus, bagaimana cara kita menjadi sahabat bumi yang baik?? Di sini saya tidak akan membahas apa saja yang harus kita lakukan untuk menjaga bumi ini, karena sudah banyak sekali artikel yang bertebaran di internet. Tapi di sini saya hanya ingin mengubah pola pikir teman-teman bagaimana seharusnya kita dalam menjaga bumi ini.

Saya akan memulainya dengan sebuah cerita:
Suatu hari seorang raja menyuruh seluruh rakyatnya membawa 1 sendok madu. Ada satu orang yang berpikir "ah, saya bawa 1 sendok air saja, tidak akan keliatan bila bercampur dengan banyak madu dari orang lain".. Sang raja terus menyuruh rakyatnya mengumpulkan madu yang mereka bawa ke dalam satu tong.. Ah, betapa terkejutnya sang raja, ternyata isi tong bukan madu, tetapi berisi air semua..
Klo kata-kata dalam cerita di atas diterjemahkan:
"Ah, hanya saya yang membawa satu sendok air, orang lain tidak"
Cerita ini yang terus saya ingat, jangan pernah berpikir "hanya saya". Karena diluar sana banyak sekali orang yang berpikir seperti teman-teman. Jadi seharusnya kita berpikir "Bukan hanya saya".

Contoh kecil saja, "hanya saya" yang membuang sampah sembarangan. Klo semua orang berpikir seperti ini, Apa yang bakal terjadi? Mungkin bumi ini akan dipenuhi dengan sampah yang bertebaran di sana-sini.

Sekarang mulailah berpikir "Bukan hanya saya", mulailah sesuatu dengan "Saya melakukan ini semua untuk kepentingan banyak orang, untuk orang-orang yang saya cintai, untuk Sahabat-ku Bumi yang saya cintai", dan lain sebagainya. Untuk semua yang mendatangkan kebaikan bagi diri saya, orang lain, dan lingkungan, karena kita tidak hidup sendiri dan kita hidup di bumi. Jadilah sahabat yang baik bagi-nya.

KOMPETISI DESAIN DAN PENULISAN WEB / BLOG:
Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3

Selasa, 16 Desember 2008

Saya adalah...

Saya satu orang yang berpikir "bukan hanya saya, tapi ada orang-orang lain yang berpikir seperti saya", saya tidak sendirian..

Ada cerita:
Suatu hari seorang raja menyuruh seluruh rakyatnya membawa 1 sendok madu. Ada satu orang yang berpikir "ah, saya bawa 1 sendok air saja, tidak akan keliatan bila bercampur dengan banyak madu dari orang lain"..
Sang raja terus menyuruh rakyatnya mengumpulkan madu yang mereka bawa ke dalam satu tong..
Ah, betapa terkejutnya sang raja, ternyata isi tong bukan madu, tetapi air..

Cerita ini yang terus saya ingat, jangan pernah berpikir "hanya saya".

Contoh kecil saja, "hanya saya" yang membuang sampah sembarangan. Klo semua orang berpikir seperti ini, Apa yang bakal terjadi?

Salam Menjaga Bumi