Sabtu, 20 Desember 2008

Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3




Wah senang-nya saya tau ketika kompas ngadain Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3. Soalnya udah beberapa bulan ini saya belajar membuat template blog. Diawali dengan membuat classic template hingga akhirnya membuat xml template, dan saya juga sudah membuat blog penyedia template gratisan di: freexmltemplate.blogspot.com, walaupun belum sempurna, tapi lumayan sebagai pemula (bukan bermaksud untuk promosi). Template blog saya sendiri menggunakan classic template.

Kompetisi Anak Muda yang diadakan kompas ini disponsori oleh IM3. Saya sangat bangga dengan IM3, yang sudah berada di garda depan dalam mengkampanyekan stop "Global Warming". Sukses buat IM3.

Sedikit bercerita, tema Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 adalah "Jadilah Sahabat Bumi". Tema yang bagus untuk saat ini, soalnya sekarang kita ngeliat banyak orang yang ga lagi peduli dengan kondisi bumi saat ini, dari mulai hal-hal kecil seperti buang sampah sembarangan, sampai hal-hal yang besar seperti industri yang membuang limbah sembarangan.

Belum lagi penggunaan listrik yang berlebihan oleh beberapa orang yang ga peduli akibatnya. Saya ingin menceritakan pengalaman saya di kos (maklum saya ini masih kuliah). Ada beberapa teman yang menggunakan komputer mereka secara berlebihan, mulai dari pagi dengarin musik, trus siang main game sampe malem, dilanjutkan dengan lagu tidur sampe pagi. 24 Jam komper nyala terus. Klo ditegur buat hemat listrik, eh malah jawabnya, "kan kita udah bayar listrik ke ibu kos, Rp. 20.000,-/bulan, kita pake apa ga, sama aja bayarnya segitu.

Saya katakan, bukan masalahnya kita udah bayar apa belum, tapi setidaknya kita bisa hemat energi sebagai bukti bahwa kita peduli terhadap bumi ini. Klo semua orang berpikiran seperti teman saya tadi, saya tidak bisa membayangkan penggunaan listrik di indonesia ini.

Itu baru masalah listrik, belum lagi masalah asap kendaraan. Beberapa teman entah gengsi atau apa buat nebeng motor sama teman satu kos-nya, padahal satu tempat kuliahan. Saya sekarang kulian di Kota Gudeg, Jogjakarta, saya melihat pengguna sepeda motor tiap tahunnya meningkat, padahal pemerintah sudah menyediakan Trans Jogja untuk transportasi.

Ah, udah, curhatnya sampe di sini dulu, Kita kembali ke informasi Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3.

Ada satu tantangan buat teman-teman, selain bentuk desain dan kualitas tulisan yang bagus, yaitu: Blog kita harus ter-index oleh Google dengan kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3.

Sudah dua bulan ini dari semenjak kompetisi ini dikumandangkan, kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3, lagi rame dipake dibeberapa blog, maklum ini adalah kata kunci kebruntungan, siapa yang naruh kata kunci ini di blognya dan berhasil muncul di nomor pertama google, bakal dapat hadiah dari mudaers.com.

Maklum, panitia kompetisi memberikan bocoran penilaian sebagai berikut:

Penjurian akan dilakukan dari Kompas MuDA dan Kompas.com. MuDA mau kasih bocoran penilaian dari juri nih. Salah satu metode yang digunakan untuk menilai web kamu adalah popularitas web di mesin pencari Google.

Cara yang akan digunakan adalah dengan mengetikkan kata kunci : Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3. Nah,. di Google nanti akan muncul web-web peserta lomba. Karena itu, kata kunci ”Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3” ini harus ada di halaman web kamu.
Peringkat yang bagus akan ikut menentukan nilai web kamu. Salah satu pesan yang ingin disampaikan MuDA adalah: kamu boleh saja buat tulisan bagus dan desain yang hebat, tapi kalau tak terindeks oleh Google atau tak punya popularitas di mesin pencari, ya percuma saja kawan.

Satu lagi, bocoran penilain:

Kompetisi ini menggabungkan antara kualitas tulisan dan kualitas desain (50% : 50%). Jadi yang tidak jago desain tetap punya peluang. Sebaliknya yang tidak jago nulis tapi hobi nge-blog dan jago desain, bisa punya peluang menang.

Web yang dilombakan minimal harus ada satu halaman yang berisi tulisan dengan tema "Jadilah Sahabat Bumi". Boleh menulis apa pun mulai hal-hal kecil terkait lingkungan kamu yang bisa menggugah minat orang untuk membaca.

Hehehe.. Termasuk blog saya juga pake kata kunci ini, persaingannya sangat ketat, beberapa blog udah nangkring di nomor satu. Klo teman-teman mau ikut kompetisi website kompas muda im3 silahkan kunjungi situs mereka di http://mudaers.com/, siapa tau kalian yang dapat juara. Batasnya ampe tanggal 20 Januari 2009. Hadiahnya lumayan, bisa buat traktir bakso teman-teman kalian..

Namun, entah gimana caranya panitia menilai bila template sebuah blog diambil dari website penyedia template gratisan. Kasian tuh teman-teman yang punya desain sendiri malah kalah sama yang pake template orang lain. Trus untuk isi tulisan blog, ada beberapa tulisan di blog hasil copy-paste dari blog lain.

Tapi panitia katanya punya cara sendiri:

Catatan khusus: untuk lomba desain web/blog ini, mengingat banyaknya kasus web/blog yang menggunakan tampilan sama (template sama), maka jika juri kesulitan menentukan pemenang I, II, III, Juri HANYA akan mencari lima besar website dengan nilai hadiah merata yaitu masing-masing Rp 1.000.000.

O ia, setiap kompetisi kan pasti ada hadiahnya, hadiah sebagai berikut:

Pemenang I : Uang Tunai Rp 3.000.000 Plus Hadiah Menarik Lainnya
Pemanang II: Uang Tunai Rp 2.000.000 Plus Hadiah Menarik Lainnya
Pemenang III: Uang Tunai Rp 1.000.000 Plus Hadiah Menarik Lainnya

Bila informasi di blog ini masih kurang, teman-teman bisa mengunjungi website mudaers.com sebagai penyelenggara Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3 ini. Soalnya selain kompetisi website ada kompetisi-kompetisi lain yang teman-teman bisa ikuti, lumanya selain bakat kamu tersalurkan, kamu juga bisa dapat hadiah bila menang. Pribahasanya: Sambil menyelam minum air.

Kamis, 18 Desember 2008

Menjadi Sahabat Bumi yang Baik

Klo ditanya: Apa sih arti dari sebuah persahabatan?

Masing-masing orang pasti punya pendapat yang berbeda, nah klo saya ditanya arti dari sahabat, maka saya menjawab:

"Sahabat adalah orang yang bisa menemani dan menjaga kita, di saat kita susah atau senang. Sahabat adalah dia yang tidak membuat kita kecewa, tidak menyakiti kita, dan selalu saling menghargai".

Trus, bagaimana cara kita menjadi sahabat bumi yang baik?? Di sini saya tidak akan membahas apa saja yang harus kita lakukan untuk menjaga bumi ini, karena sudah banyak sekali artikel yang bertebaran di internet. Tapi di sini saya hanya ingin mengubah pola pikir teman-teman bagaimana seharusnya kita dalam menjaga bumi ini.

Saya akan memulainya dengan sebuah cerita:
Suatu hari seorang raja menyuruh seluruh rakyatnya membawa 1 sendok madu. Ada satu orang yang berpikir "ah, saya bawa 1 sendok air saja, tidak akan keliatan bila bercampur dengan banyak madu dari orang lain".. Sang raja terus menyuruh rakyatnya mengumpulkan madu yang mereka bawa ke dalam satu tong.. Ah, betapa terkejutnya sang raja, ternyata isi tong bukan madu, tetapi berisi air semua..
Klo kata-kata dalam cerita di atas diterjemahkan:
"Ah, hanya saya yang membawa satu sendok air, orang lain tidak"
Cerita ini yang terus saya ingat, jangan pernah berpikir "hanya saya". Karena diluar sana banyak sekali orang yang berpikir seperti teman-teman. Jadi seharusnya kita berpikir "Bukan hanya saya".

Contoh kecil saja, "hanya saya" yang membuang sampah sembarangan. Klo semua orang berpikir seperti ini, Apa yang bakal terjadi? Mungkin bumi ini akan dipenuhi dengan sampah yang bertebaran di sana-sini.

Sekarang mulailah berpikir "Bukan hanya saya", mulailah sesuatu dengan "Saya melakukan ini semua untuk kepentingan banyak orang, untuk orang-orang yang saya cintai, untuk Sahabat-ku Bumi yang saya cintai", dan lain sebagainya. Untuk semua yang mendatangkan kebaikan bagi diri saya, orang lain, dan lingkungan, karena kita tidak hidup sendiri dan kita hidup di bumi. Jadilah sahabat yang baik bagi-nya.

KOMPETISI DESAIN DAN PENULISAN WEB / BLOG:
Kompetisi Website Kompas MuDA - IM3

Selasa, 16 Desember 2008

Saya adalah...

Saya satu orang yang berpikir "bukan hanya saya, tapi ada orang-orang lain yang berpikir seperti saya", saya tidak sendirian..

Ada cerita:
Suatu hari seorang raja menyuruh seluruh rakyatnya membawa 1 sendok madu. Ada satu orang yang berpikir "ah, saya bawa 1 sendok air saja, tidak akan keliatan bila bercampur dengan banyak madu dari orang lain"..
Sang raja terus menyuruh rakyatnya mengumpulkan madu yang mereka bawa ke dalam satu tong..
Ah, betapa terkejutnya sang raja, ternyata isi tong bukan madu, tetapi air..

Cerita ini yang terus saya ingat, jangan pernah berpikir "hanya saya".

Contoh kecil saja, "hanya saya" yang membuang sampah sembarangan. Klo semua orang berpikir seperti ini, Apa yang bakal terjadi?

Salam Menjaga Bumi

Mari Menjaga Bumi

Sumber: http://sijorimandiri.net/

Bumi adalah salah satu planet yang menjadi satu-satunya tempat hidup umat manusia. Lebih dari enam miliar manusia, serta makhluk hidup lainnya bergantung pada bumi. Bagaimana jika tempat hidup kita ini perlahan-lahan rusak dan mungkin kelak membinasakan semua makhluk hidup akibat pemanasan global? Keprihatinan terhadap bumi yang semakin rusak membuat sebagian besar negara di dunia menggalang solidaritas untuk menyelamatkan bumi. Di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejumlah pertemuan internasional pun digelar dan yang terakhir menyepakati adanya Protokol Kyoto. Ratusan negara telah meratifikasi protokol itu. Sayangnya, tercatat dua negara terkemuka, yakni Amerika Serikat dan Australia enggan meratifikasinya. Kenyataan ini menunjukkan belum kompaknya negara-negara di dunia menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Namun, sebagian besar negara tak tinggal diam dan terus mengupayakan kebersamaan dalam merumuskan langkah-langkah konkret untuk mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim. Kali ini upaya itu dilakukan di Bali melalui Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim. Konferensi ini diharapkan dapat memperkuat komitmen negara-negara untuk menurunkan emisi sesuai target yang telah ditetapkan.

Kita menilai Pertemuan Bali merupakan langkah penting dalam mewujudkan kebersamaan dunia untuk menyelamatkan bumi. Kita sadar Pertemuan Bali memang tidak didedikasikan untuk menghasilkan sebuah kesepakatan baru, tetapi tetap bermakna untuk menyiapkan peta jalan (roadmap) bagi terbentuknya kesepakatan baru pasca-Protokol Kyoto tahun 2012.

Berdasarkan keterangan resmi delegasi Pemerintah Indonesia, ada empat agenda utama yang dibahas di Bali, mulai Senin kemarin hingga 14 Desember 2007. Keempat agenda itu adalah mitigasi, adaptasi, alih teknologi, serta investasi dan pendanaan. Bagi sebagian besar warga, tema-tema itu terasa asing dan berada di awang-awang.

Kita berpendapat, Pertemuan Bali dan pemberian pemahaman tentang dampak pemanasan global terhadap rakyat harus berjalan simultan. Pertemuan Bali merupakan pertemuan elite pemerintahan, tetapi menjadi tak bermakna tanpa dukungan rakyat Indonesia. Pertemuan Bali hendaknya dapat memperkuat komitmen negara-negara untuk menurunkan emisi dengan skema apa pun dan harus didukung perilaku warga dunia untuk melestarikan alam. Hanya saja kita mengingatkan agar skema penurunan emisi itu tidak sampai merugikan rakyat dengan merampas hak-hak mereka.

Kalau Pemerintah Indonesia bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan bumi, tentu saja kita sebagai warga negara dalam kapasitas masing-masing pun harus ikut memberi dukungan. Salah satu langkah positif adalah menanam 10 juta pohon yang telah dilakukan serentak di seluruh Indonesia, Sabtu (1/12). Program penanaman, pemeliharaan, hingga pengharaman penebangan pohon dalam ukuran tertentu, harus betul-betul menjadi gaya hidup manusia Indonesia.

Untuk itu, pemerintah melalui para penegak hukum harus bersikap tegas terhadap setiap pelaku pembalakan hutan. Para penegak hukum yang "bermain mata" dengan perusak hutan harus ditindak tegas. Kesungguhan itu harus ditunjukkan oleh pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal-lain yang bisa dilakukan adalah mengurangi penggunaan energi dari bahan fosil, seperti bahan bakar minyak (BBM). Langkah itu diharapkan dapat mengurangi perusakan atmosfer.

Efek pemanasan global sebetulnya telah kita rasakan. Jadi, mari kita bersama-sama menguranginya dan terus menjaga bumi ini.

Menjaga Bumi, Menjaga Hidup

Oleh: DAHONO FITRIANTO, Sumber: http://www2.kompas.com/

Pemanasan global atau "global warming" sudah menjadi kosa kata harian. Tak terhitung peringatan yang sudah diberikan mulai dari ilmuwan, pakar lingkungan hidup, politisi, hingga selebriti, di televisi, radio, koran, internet, sampai pamflet. Namun, tengoklah sekitar kita.

Seorang teman, yang berlibur ke Kebun Raya Bogor (KRB) pada musim libur panjang pekan lalu, menceritakan, kolam-kolamnya yang asri dengan bunga-bunga teratai raksasa dipenuhi botol air mineral dan sampah plastik. "Rasanya ingin menangis," ujar teman yang masih ingat betapa bersih dan anggunnya KRB pada era 1970-an.

Bicara soal sampah, perhatikan perilaku pengemudi mobil. Dari jendela mobil mewah penumpangnya membuang sampah ke jalan aspal. Mungkin dia pikir dunia di luar mobil adalah tempat sampah besar.

Itulah gaya hidup "NIMBY" alias not in my backyard yang makin akut menjangkiti penduduk kota besar. Selama bukan di "halaman belakang rumahnya", berarti bukan urusan dia. Akibatnya, prasarana publik macam taman kota, jalan raya, selokan, sungai, hingga laut, dianggap bukan milik siapa-siapa sehingga boleh diperlakukan seenaknya.

Itu semua masih bicara soal kebersihan. Isu kuno dan klise, yang sudah diajarkan sejak taman kanak-kanak, tetapi ternyata masih belum bisa dipraktikkan semua orang sampai berumur kakek-kakek.

Di tengah kesadaran yang sangat rendah tentang lingkungan, masih mungkinkah memahami soal perubahan iklim, emisi gas rumah kaca (GRK) dan seluruh dampak pemanasan global?

Paling rentan

Sebagai negara kepulauan yang penduduknya terkonsentrasi di kawasan pantai, Indonesia adalah negara paling rentan terkena dampak pemanasan global. Naiknya permukaan air laut akibat mencairnya es kutub akan menggenangi hunian di pesisir. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut, sampai tahun 2006, Indonesia telah kehilangan 20 pulau kecil karena abrasi.

Ancaman perubahan iklim sudah kita rasakan bersama saat ini. "Kemarau panjang sebagai dampak pemanasan global akan mempercepat kebakaran hutan yang lebih masif. Ketersediaan air juga terancam," papar Chalid Muhammad, Direktur Eksekutif Walhi.

Lembaga-lembaga swadaya masyarakat di bidang lingkungan hidup, seperti Walhi dan Yayasan Pelangi Indonesia, tak henti-hentinya menyadarkan semua pihak tentang bahaya kehidupan manusia akibat pemanasan global ini. Mulai pendidikan publik di tingkat akar rumput hingga desakan kepada pemerintah. "Tak kalah penting adalah lobi dan berbagi ilmu pengetahuan dengan pemerintah agar bisa melakukan tekanan internasional kepada negara-negara penyumbang emisi karbon dioksida terbesar," ungkap Chalid.

Kontributor utama

Namun, kendala datang justru dari "halaman belakang" rumah sendiri. Baik pemerintah maupun masyarakat Indonesia pada umumnya belum sepenuhnya menyadari tindakan-tindakan yang memperburuk situasi.

Manajer Informasi dan Komunikasi Yayasan Pelangi Indonesia Nugroho Kurniawan menyebut pola konsumsi dan gaya hidup warga kota besar sangat berpengaruh terhadap pemanasan global. "Kebiasaan boros listrik, menyalakan peralatan listrik yang tak perlu, AC terlalu dingin di mal-mal dan bioskop-bioskop, sekolah yang bangga karena seluruh ruangnya ber-AC, hingga penggunaan kendaraan bermotor untuk transportasi, semuanya menyumbang emisi GRK penyebab pemanasan global," papar Nugroho.

Pembuat kebijakan yang hanya berpikir jangka pendek menyangkut eksploitasi sumber daya alam juga menjadi kontributor utama pemanasan global. "Yang terjadi saat ini adalah akumulasi krisis. Sayangnya, rakyat belum menggunakan hak politiknya untuk menekan pembuat kebijakan," ujar Chalid.

Hal-hal sederhana

Sedemikian sulitkah menyadarkan masyarakat untuk mencegah bencana global ini? Bagi pemain sinetron Shahnaz Haque, penyadaran itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana sehari-hari di lingkungan terkecil.

Sejak dini, ia dan suaminya, Gilang Ramadhan, menanamkan kesadaran hemat energi dan air kepada tiga anaknya, mulai dari mematikan lampu kalau tak dipakai, dilarang menggosok gigi sambil membuka keran air, dan dilarang keras buang sampah ke luar mobil.

"Kalau satu orang melakukan dan dilanjutkan satu komunitas melakukan, itu akan baik," ujar Shahnaz, yang lulusan Teknik Penyehatan Universitas Indonesia ini.

Sisanya, menurut konstitusi yang sah, rakyatlah pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini. Rakyatlah yang paling berhak menentukan siapa pemimpin yang bisa dan mau menjaga kelangsungan tanah dan air tempat kita berpijak ini. Karena menjaga bumi adalah menjaga kehidupan. (MH/IVV/XAR)