Tampilkan postingan dengan label Kerusakan alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerusakan alam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2009

Lapisan ozon



Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer pada ketinggian 19 - 48 km (12 - 30 mil) di atas permukaan Bumi yang mengandung molekul-molekul ozon. Konsentrasi ozon di lapisan ini mencapai 10 ppm dan terbentuk akibat pengaruh sinar ultraviolet Matahari terhadap molekul-molekul oksigen. Peristiwa ini telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu, tetapi campuran molekul-molekul nitrogen yang muncul di atmosfer menjaga konsentrasi ozon relatif stabil.

Ozon adalah gas beracun sehingga bila berada dekat permukaan tanah akan berbahaya bila terhisap dan dapat merusak paru-paru. Sebaliknya, lapisan ozon di atmosfer melindungi kehidupan di Bumi karena ia melindunginya dari radiasi sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker. Oleh karena itu, para ilmuan sangat khawatir ketika mereka menemukan bahwa bahan kimia klorofluorokarbon (CFC) yang biasa digunakan sebagai media pendingin dan gas pendorong spray aerosol, memberikan ancaman terhadap lapisan ini. Bila dilepas ke atmosfer, zat yang mengandung klorin ini akan dipecah oleh sinar Matahari yang menyebabkan klorin dapat bereaksi dan menghancurkan molekul-molekul ozon. Setiap satu molekul CFC mampu menghancurkan hingga 100.000 molekul ozon. Oleh karena itu, penggunaan CFC dalam aerosol dilarang di Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia. Bahan-bahan kimia lain seperti bromin halokarbon, dan juga nitrogen oksida dari pupuk, juga dapat menyerang lapisan ozon.

Menipisnya lapisan ozon dalam atmosfer bagian atas diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penyakit kanker kulit dan katarak pada manusia, merusak tanaman pangan tertentu, mempengaruhi plankton yang akan berakibat pada rantai makanan di laut, dan meningkatnya karbondioksida (lihat pemanasan global) akibat berkurangnya tanaman dan plankton. Sebaliknya, terlalu banyak ozon di bagian bawah atmosfer membantu terjadinya kabut campur asap, yang berkaitan dengan iritasi saluran pernapasan dan penyakit pernapasan akut bagi mereka yang menderita masalah kardiopulmoner.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dampak kebakaran liar

Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran liar antara lain:
  1. Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer. Kebakaran hutan pada 1997 menimbulkan emisi / penyebaran sebanyak 2,6 miliar ton karbon dioksida ke atmosfer (sumber majala Nature 2002). Sebagai perbandingan total emisi karbon dioksida di seluruh dunia pada tahun tersebut adalah 6 miliar ton.
  2. Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti.
  3. Menyebabkan banjir selama beberapa minggu di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau.
  4. Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil.
  5. Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau.
  6. Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi hal ini dapat mengakibatkan perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku dan puluhan ribu pekerja menjadi penganggur/kehilangan pekerjaan.
  7. Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru-paru. Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan anak-anak. Polusi asap ini juga bisa menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.
  8. Asap yang ditimbulkan menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat antara lain pendidikan, agama dan ekonomi. Banyak sekolah yang terpaksa diliburkan pada saat kabut asap berada di tingkat yang berbahaya. Penduduk dihimbau tidak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. Hal ini mengganggu kegiatan keagamaan dan mengurangi kegiatan perdagangan/ekonomi. Gangguan asap juga terjadi pada sarana perhubungan/transportasi yaitu berkurangnya batas pandang. Banyak pelabuhan udara yang ditutup pada saat pagi hari di musim kemarau karena jarak pandang yang terbatas bisa berbahaya bagi penerbangan. Sering terjadi kecelakaan tabrakan antar perahu di sungai-sungai, karena terbatasnya jarak pandang.
  9. Musnahnya bangunan, mobil, sarana umum dan harta benda lainnya.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Penyebab kebakaran liar



Penyebab kebakaran liar, antara lain:
  • Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.
  • Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok secara sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan.
  • Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi.
  • Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme.
  • Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemara
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kebakaran liar



Kebakaran liar, atau juga kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, kebakaran rumput, atau kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi dapat juga memusnahkan rumah-rumah atau sumber daya pertanian. Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan mansusia, dan pembakaran.

Musim kemarau dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran hutan besar.

Kebakaran hutan dalam bahasa Inggris berarti "api liar" yang berasal dari sebuah sinonim dari Api Yunani, sebuah bahan seperti-napalm yang digunakan di Eropa Pertengahan sebagai senjata maritim.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Senin, 26 Januari 2009

Effects of global warming



The effects of global warming on the environment and human life are numerous and varied.

Scenarios studied by the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) predict that global warming will continue and get worse much faster than was expected even in their last report. The IPCC reports attribute many specific natural phenomena to human causes. The expected long range effects of recent climate change may already be observed. Rising sea levels, glacier retreat, Arctic shrinkage, and altered patterns of agriculture are cited as direct consequences of human activities. Predictions for secondary and regional effects include extreme weather events, an expansion of tropical diseases, changes in the timing of seasonal patterns in ecosystems, and drastic economic impact. Concerns have led to political activism advocating proposals to mitigate, eliminate, or adapt to it. Geoengineering is a further potential response, which is considered a form of mitigation by some commentators.

The 2007 Fourth Assessment Report by the IPCC includes a summary of the expected effects.

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jumat, 23 Januari 2009

Karbon di atmosfer

Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer Bumi adalah gas karbon dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer (hanya sekitar 0,04% dalam basis molar, meskipun sedang mengalami kenaikan), namun ia memiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.

Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:
  • Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.
  • Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut (lihat bagian solubility pump).
  • Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah (lihat bagian biological pump).
  • Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).
Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:
  • Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air.
  • Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.
  • Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan (petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer.
  • Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak.
  • Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer.
  • Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Siklus karbon

Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi (objek astronomis lainnya bisa jadi memiliki siklus karbon yang hampir sama meskipun hingga kini belum diketahui).

Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon)), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar dekat permukaan Bumi, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer.

Neraca karbon global adalah kesetimbangan pertukaran karbon (antara yang masuk dan keluar) antar reservoir karbon atau antara satu putaran (loop) spesifik siklus karbon (misalnya atmosfer - biosfer). Analisis neraca karbon dari sebuah kolam atau reservoir dapat memberikan informasi tentang apakah kolam atau reservoir berfungsi sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon dioksida.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Karbon dioksida



Karbon dioksida (rumus kimia: CO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah dengan kuat.

Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.

Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai es kering.



CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2 mengubah warna litmus dari biru menjadi merah muda.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Senin, 19 Januari 2009

Pasca Perang, Irak Harus Membayar Mahal Kerusakan Lingkungan

Sumber http://www.geografiana.com/



Buana Katulistiwa- Permasalahan lingkungan Irak, segera akan menjadi persoalan yang sangat serius di negeri itu pasca perang, termasuk pembersihan tempat-tempat berbahaya dari upaya sabotasi pipa-pipa minyak, kata pejabat PBB, Jum'at (3/6).

"Bahan-bahan kimia kini sedang merembes ke bawah tanah dan situasi menjadi buruk dan menimbulkan permasalahan kesehatan yang serius," kata Pekka Haavisto, Ketua Satgas Program Lingkungan PBB untuk Irak.

Irak, kata dia, merupakan kasus yang sangat buruk yang pernah mereka tangani dan sangat sulit pula untuk dibandingkan. "Setelah Perang Balkan, kami dapat secepat mungkin dapat melakukan intervensi untuk membuat perlindungan, seperti terhadap sungai Danube, tapi tidak untuk Irak," kata Haasvito seperti dikutip Reuters.

Minimnya peralatan dan kemampuan Irak untuk menangani polusi dari dua peperangan sebelumnya dan lebih dari satu dekade penerapan sanksi yang menghancurkan lingkungan, termasuk terhadap sungai Tigris dan Eufrat dimana banyak mengalir limbah yang berbahaya.

Situasi menjadi buruk setelah invasi pimpinan Amerika Serikat tahun 2003, dimana munisi uranium telah dipergunakan untuk melawan Irak untuk kedua kali dan sehabis perang merampas dan membakar infrastruktur menyebabkan keruntuhan massif dan racun.

"Pengeboman dan perang menyebabkan biaya, tapi biaya yang diakibatkan kerusahan lingkungan lebih mahal lagi, seperti yang yang terjadi di istalasi penyulingan Dora atau gudang penyimpanan nuklir Tuwaitha," kata Haavisto.

"Ada tempat yang tak pernah dibersihkan, yang ada hanya kerja penilaian dari tempat-tempat ini. Sangat sedikit yang sudah berubah dan tim Irak kini sedang proses mencapai beberapa lokasi."

Pejabat PBB mengacu kepada kompleks Tuwaitha seluas 56 km2 (22 mile persegi) di selatan Baghdad dimana 3.000 barel bahakan kimia yang mengandung kandungan nuklir telah dicuri.

Di depot Dora di tepi Baghdad, 5.000 barel bahan kimia, termasuk depot tetra ethylene telah tumpah terbakar atau dicuri, seperti ditunjukkan sebuah hasil survey PBB.

Tempat-tempat yang terkontaminasi berdekatan dengan suplai air, termasuk 200 km2 (77 mil persegi) kompleks industri militer, pabrik semen dan pupuk yang sudah dicuri dan penumpahan minyak.

"Irak tadinya adalah masyarakat industri modern. Bahan kimia sangat berisiko bagi masa depannya. Semakin banyak waktu yang disia-siakan maka akan memberikan konsekuensi kesehatan," kata Haavisto.

Dia mengatakan, penanganan kerusakan lingkungan pasca perang memaksa 1.000 staf kementerian lingkungan Irak menyusun sebuah unit independen setelah invasi Amerika.

Sebuah studi akan dilakukan mencakup penggunaan uranium, racun, baja untuk bom yang lebih mematikan, yang digunakan Amerika Serikat dalam invasi ini. Pada Perang Teluk, ada perkiraan Amerika menggunakan 300 ton bahan-bahan mematikan ini, dan belum ada angka yang pasti berapa besar penggunaanya pada invasi terakhir ini. (bj)

Perang dan Tragedi Lingkungan

Oleh Prof. Dr. Hadi S. Alikodra
Penulis adalah Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB
Sumber http://www.sinarharapan.co.id/



Kerusakan lingkungan di Irak dalam arti yang sebenar-benarnya karena menyangkut kerusakan fisik, psikis, mental, maupun moral akibat perang sungguh mengerikan. Secara fisik, orang bisa menghitung berapa jumlah korban manusia yang tewas, bangunan yang rata dengan tanah, hilangnya suplai air bersih, matinya arus listrik, dan lain-lain. Secara psikis, trauma perang yang terus menimpa rakyat Irak sejak 1970-an (sejak Perang Irak-Iran, Irak-Kuwait-Sekutu, Irak-Sekutu) akan menimbulkan persoalan yang serius di masa depan. Secara mental, rakyat Iran mengalami luka yang dalam, dan secara moral rakyat Irak menderita kerusakan. Penjarahan yang terjadi pasca-kejatuhan Baghdad sampai hari-hari ini di berbagai kota di Irak menunjukkan betapa tingkat kerusakan mental dan moral rakyat Irak akibat perang.

Terlepas dari keberhasilan Sekutu menumbangkan Saddam Hussein, invasi AS-Inggris terhadap Irak yang menewaskan ribuan warga sipil tak berdosa hanya dalam tiga pekan tersebut, jika kita melihat dari perspektif tersebut di atas, jelas merupakan tragedi lingkungan hidup yang amat dahsyat.

Jika bencana alam terjadi secara tak sengaja akibat perbuatan manusia yang mengabaikan aspek lingkungan hidup, maka perang merupakan ”bencana” yang dengan sengaja dilakukan manusia untuk memenuhi ambisi kebina-tangannya.

Tragedi perang Irak, misalnya, tidak perlu terjadi seandainya semua pihak yang bertikai lebih mengedepankan dialog dan solusi damai – betapa pun lama dan melelahkan.
Dalam setiap problem, betapa pun besarnya, kata Dale Carnagie, pasti ada celah untuk memecahkannya. AS tampaknya tidak mau mencari celah itu. Dia lebih suka menggunakan kekerasan untuk memecahkan krisis tersebut tanpa mengindahkan korban-korban manusia dan alam yang tak berdosa.

Melihat kebrutalan tentara Sekutu dalam invasi ke Irak di layar kaca, jika kita memandangnya dari aspek lingkungan hidup, sungguh peristiwa itu merupakan tragedi lingkungan hidup yang tiada tara besarnya. Jumlah korban tewas dan terluka yang mencapai puluhan ribu orang –baik dari kalangan militer maupun sipil– sebetulnya menandakan bahwa perang merupakan penyebab kerusakan lingkungan yang paling mendasar. Dikatakan paling mendasar karena sasaran perang adalah matinya manusia yang disengaja dengan menggunakan senjata hasil aplikasi pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan manusia sendiri.

Padahal, ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya dikembangkan manusia untuk memperbaiki kehidupan di muka bumi. Kesejahteraan umat manusia di bumi seharusnya menjadi fokus utama pengembangan ilmu dan teknologi, tanpa kecuali.
Dalam perang, apa pun alasannya, yang terjadi justru sebaliknya. Ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sarana dan alat untuk menghancurkan manusia dan alam.
Dalam perang Vietnam, misalnya, tentara AS yang terkenal dengan senjata-senjata pemusnah massalnya, telah membunuh sedikitnya setengah juta warga sipil. Kerusakan alam dan lingkungan akibat perang Vietnam sangat dahsyat. Jutaan hektar hutan terbakar bom Napalm yang terkenal daya rusak dan panasnya.

Dalam Perang Teluk Pertama, 1991, ketika AS mengusir Irak dari Kuwait, korban manusia dan alam juga amat besar. Begitu pula dalam Perang Teluk Kedua, 2003, korban manusia dan lingkungan hidup amat dahsyat. Ratusan miliar dolar AS dihamburkan untuk saling membunuh.
Biaya perang itu sungguh amat besar bila dibandingkan dengan bantuan internasional atau kontribusi AS untuk program bantuan pa-ngan negara-negara miskin, pemberantasan penyakit menular, langit biru (pengurangan pencemaran udara), reboisasi hutan gundul, dan lain-lain, yang manfaatnya dirasakan langsung seluruh umat manusia. Sungguh ironis, Sekutu mau mengeluarkan dana sangat besar untuk penghancuran manusia; sementara untuk penyelamatan manusia mereka hanya mau mengeluarkan uangnya amat sedikit dan itu pun tersendat-sendat.
Alasan Sekutu bahwa invasi ke Irak untuk membebaskan rakyat dari penindasan Saddam terkesan mengada-ada. Sepintas logika Bush tersebut sangat elegan, membebaskan rakyat Irak dari kediktatoran Saddam Hussein. Tapi kenyataan di lapangan ibarat ”jauh panggang dari api”.
Kenapa tentara AS menembak kendaraan warga sipil yang tengah mengungsi menghindari perang? Kenapa tentara AS mengebom rumah sakit? Kenapa tentara AS menghancurkan hotel yang dihuni para wartawan dan orang asing yang jelas-jelas bukan tentara Irak? Pertanyaan-pertanyan ini sekadar ingin membalik logika elegan Bush tadi.

Banyaknya korban sipil, baik yang sengaja dibunuh tentara Sekutu maupun terkena reruntuhan gedung yang dibom, menggambarkan kepada kita betapa invasi AS ke Irak sebetulnya punya tujuan yang lain, yaitu memenuhi ambisi AS untuk menguasai dunia. Jika sudah demikian, AS memang tidak akan peduli lagi siapa korban senjatanya, yang penting tujuan hegemoniknya tercapai.

Kini situasi di Irak pascapendudukan Baghdad kacau-balau. Hukum tidak ada lagi. Tentara Sekutu membiarkan rakyat menjarah harta benda orang lain. Ini menunjukkan, Sekutu tidak bertanggung jawab terhadap keamanan negara yang dikuasainya. Sangat berbeda dengan penaklukan Makkah (Fatkhu Makkah) oleh tentara Islam 15 abad lalu, di mana pimpinannya Muhammad SAW mengingatkan tentara Islam untuk menjaga ketertiban hukum di wilayah yang dikuasainya.

Jangankan menjarah barang orang lain, Muhammad bahkan melarang tentara Islam membunuh binatang dan menebang pohon di wilayah yang ditaklukkannya.
Dari gambaran itu, kita melihat betapa rendahnya moralitas tentara Sekutu di Irak. Kita tidak bisa banyak berharap dari sebuah pasukan pendudukan yang bermoral buruk untuk membangun kembali wilayah yang ditaklukkannya.

Jangankan mau memperbaiki lingkungan hidup yang rusak akibat bombardemen senjatanya, menjaga ketertiban manusia di wilayah pendudukannya saja tak dilakukannya.
Walhasil, apa yang dapat digambarkan dari semua itu: Sekutu memang ingin menghancurkan Irak, baik fisik maupun mentalnya, baik hardware maupun software-nya – untuk kemudian ”dibangun kembali” setelah Irak benar-benar berada dalam genggamannya secara total. Memang itulah tujuan invasinya.

Dari paparan di atas, kita bisa melihat bagaimana masa depan Irak. Sebuah negeri petrodolar yang kelak menjadi ”boneka” AS. Belajar dari pengalaman, adakah negara boneka yang kekayaannya terus-menerus disedot akan berhasil dalam membangun rakyatnya? Sejarah telah membuktikan rapuhnya rezim Syah Reza Pahlevi di Iran – negeri boneka AS saat itu.
Bukan tidak mungkin Irak di masa depan juga akan mengalami problem seperti itu. Negeri boneka biasanya lebih mementingkan ”kesejahteran bosnya” ketimbang rakyatnya. Rezim Irak masa depan akan lebih tunduk pada kepentingan AS ketimbang kepentingan rakyatnya. Dan itu merupakan akar ”kerusakan lingkungan” yang berikutnya bagi Irak.

Lantas bagaimana PBB? Di zaman Syah Iran pun, PBB sudah ada. Tapi, keberadaannya tidak menyelesaikan masalah sampai akhirnya rakyat Iran di bawah pimpinan Imam Khomeini merobohkan Syah Iran. Begitu pula tampaknya rezim boneka Irak di masa datang. Penyelesaian ala Sekutu di Irak pasca-Saddam hanya akan menambah dendam rakyat Irak, baik terhadap rezim boneka maupun AS. Dalam masyarakat seperti itu jangan berharap akan ada perbaikan lingkungan hidup.

Sebuah negeri yang dieksploitasi besar-besaran untuk sebuah kepentingan kapitalisme, niscaya akan mengabaikan problem lingkungan hidup. Investasi yang mahal untuk perbaikan lingkungan hanya dianggap pemborosan. Apalagi kekayaan Irak diperoleh dari perut bumi yang tak ada hubungan langsung dengan kelestarian alam.

Semoga gambaran suram tersebut tidak terjadi! Irak akan dapat memecahkan masalahnya secara independen dan kembali menjadi pusat peradaban dunia seperti masa lalunya. Mudah-mudahan!

Sabtu, 17 Januari 2009

kerusakan ozon

Sumber http://ray07blogqoe.blogspot.com/



Lapisan ozon melindungi bumi dari paparan sinar Ultra Violet B (UV-B) yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup di muka bumi. UV-B yang mempunyai panjang gelombang 280-315 nm, sebagian diserap oleh lapisan ozon, dengan demikian jumlah UV-B yang mencapai bumi jumlahnya sangat sedikit. Paparan UV-B terhadap manusia dapat mengakibatkan penyakit kanker kulit, katarak dan mengurangi system kekebalan tubuh. Paparan UV-B juga dapat merusak kehidupan tanaman, organisme bersel satu dan ekosistem perairan.

Sedangkan UV-A (dengan panjang gelombang 315-400 nm) tidak diserap oleh lapisan ozon. Radiasi UV-A dari sinar matahari sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di permukaan bumi.

Lapisan ozon sangat penting karena ia menyerap radiasi ultra violet (UV) dari matahari untuk melindungi radiasi yang tinggi sampai ke permukaan bumi. Radiasi dalam bentuk UV spektrum mempunyai jarak gelombang yang lebih pendek daripada cahaya. Radiasi UV dengan jarak gelombang adalah di antara 280 hingga 315 nanometer yang dikenali UV-B dan ia merusak hampir semua kehidupan. Dengan menyerap radiasi UV-B sebelum ia sampai ke permukaan bumi, lapisan ozon melindungi bumi dari efek radiasi yang merusak kehidupan.

Ozon stratospheric juga memberi efek pada suhu atmosfer yang menentukan suhu dunia. Berdasar hasil penelitian ilmuwan, lapisan ozon yang menjadi pelindung bumi dari radiasi UV-B ini semakin menipis. Gas CFC disebut juga sebagai gas yang menyebabkan terjadinya penipisan lapisan ozon ini. CFC digunakan oleh masyarakat modern seperti lemari es, bahan dorong dalam penyembur, pembuatan buih dan bahan pelarut terutamanya bagi kilang-kilang elektronik. Para ilmuwan sebenarnya sudah membuat teori dan ramalan mengenai penipisan lapisan ozon ini tahun 1970an.

Gelombang Laut Jawa Diperkirakan Naik 3 Meter

Sumber http://news.okezone.com/



TEGAL - Para nelayan di wilayah pantai utara Kota Tegal dan sekitarnya harus mewaspadai gelombang tinggi yang bisa membawa petaka di perairan Laut Jawa dan Samudera Hindia, menyusul munculnya badai Tropis Kammauri.

Saat ini, badai bertekanan 985 hPa itu berada pada posisi 21,1 lintang utara (LU) dan 109,3 bujur timur (BT) dan bergerak ke barat dengan kecepatan 15 km per jam

Prakirawan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kota Tegal, Laylya Isnaini mengatakan, munculnya badai tersebut menyebabkan gelombang di Laut Jawa cukup tinggi mencapai 2,5 meter hingga 3 meter.

Gelombang tinggi itu sangat berbahaya bagi aktivitas kapal baik tongkang, perahu nelayan maupun ferry. Sedangkan di Samudera Hindia tinggi gelombang bisa mencapai 3 meter - 3,5meter.

"Gelombang laut ini berbahaya bagi semua aktifitas melaut. Kami imbau nelayan maupun kapal-kapal wisata lainnya untuk sementara menghentikan aktivitasnya," Ujar Laylya di kantornya, Kamis (07/08/2008).

Selain itu, lanjutnya, badai tersebut juga akan menyebabkan uap air tertarik ke belahan bumi disebelah utara equator. Sehingga, awan di Pulau Jawa berkurang. Sementara angin di Pantura umumnya bertiup dari arah timur menuju tenggara dengan kecepatan 0,5 - 25 km per jam (Kastolani/Sindo/ded)

Sabtu, 10 Januari 2009

Petaka Lingkungan karena Perang

Ekosistem Irak rusak parah. Bencana jangka panjang yang harus dibayar mahal.

Oleh Agus Hidayat
From http://majalah.tempointeraktif.com/



Burung-burung berwarna kuning berparuh melengkung itu terbang tak beraturan, berusaha menyelamatkan nyawa di tengah ingar-bingar desingan peluru. Delta Sungai Eufrat, yang menjadi rumahnya selama beratus tahun, tak aman lagi. Serbuan pasukan Amerika dan sekutunya di lembah dan aliran Sungai Eufrat untuk merebut Bagdad tak cuma meniscayakan korban manusia. Kehidupan murai penyanyi Irak (Turdoides altirostris) pun ikut tercerabut.

Kini burung cantik itu, bersama 278 spesies burung di 42 habitatnya di Lembah Mesopotamia, terancam punah. Dalam laporannya, organisasi lingkungan internasional Birdlife International akhir Maret lalu menyebut perang telah merusak lingkungan fisik berbagai spesies burung yang tergolong langka di dunia itu.

Pada laporan yang dikirim ke badan PBB untuk lingkungan hidup, UNEP (The United Nations Environment Programme), Birdlife mengidentifikasi tujuh ancaman serius perang atas lingkungan Irak. Ini meliputi kerusakan fisik dan kehancuran ekosistem akibat penggunaan senjata, pergerakan pasukan dan arus pengungsi; pencemaran karena tumpahan minyak dan terbakarnya kilang minyak; kontaminasi zat kimia, biologi, dan radioaktif akibat penggunaan senjata penghancur massa; serta terbakarnya ekosistem lahan basah dan hutan karena pertempuran.

"Kerusakan lingkungan ini terabaikan, kalah oleh konflik itu sendiri," ujar Dr. Michael Rands, Direktur Eksekutif Birdlife International. Wajar kalau Rands amat prihatin. Jika pengalaman Perang Teluk pada 1991 dijadikan patokan, dampak perang kali ini tak jauh berbeda, bahkan mungkin lebih dahsyat lagi.

Dalam catatan, Perang Teluk 1991 telah menumpahkan minyak di lautan sebanyak 6 juta hingga 8 juta barel. Garis pantai yang tercemar terbentang sejauh 560 kilometer. Ini rekor tumpahan minyak di laut terbesar yang pernah terjadi.

Tumpahan minyak mencabut nyawa 30 ribu burung laut, termasuk burung langka Socotra cormorant. Ekosistem laut di utara Teluk Persia rusak berat. Burung-burung migrasi—pelikan dan bangau, yang biasa menjadikan wilayah Teluk sebagai tempat rehat—terpaksa mengubah rute dan menempuh perjalanan lebih jauh. Kerusakan juga dialami bentangan terumbu karang dan biota laut lainnya.

Di daratan, tumpahan minyak juga tak kalah hebat. Hingga perang berakhir pada April 1991, tercatat 650 kilang minyak terbakar atau sengaja dibakar. Sebanyak 25 hingga 30 juta barel minyak tumpah, mencemari wilayah seluas 19 kilometer persegi.

Perang juga menerbangkan 13.700 ton gas beracun. Para ahli memperkirakan, biaya yang diperlukan untuk membersihkan lingkungan akibat tumpahan dan terbakarnya minyak mencapai US$ 700 juta. Gas beracun ini memenuhi langit Timur Tengah dan disebarkan hingga ratusan kilometer jauhnya. Saking hebatnya, setiap tarikan napas akan berubah menjadi penderitaan. Seorang warga Kuwait menuturkan, tiap hirupan napas seakan menarik udara dari knalpot truk diesel. Partikel-partikel gas yang sebagian besar berupa nitrat dan belerang ini menimbulkan ancaman lain berupa hujan asam.

Struktur dataran padang pasir yang rapuh juga berubah drastis. Akibat laju peralatan dan kendaraan militer bertonase besar, 90 persen wilayah padang pasir Kuwait menjadi keras, persis seperti jalan aspal yang disetum. Perubahan ini mempengaruhi berjenis-jenis biota padang pasir yang biasa hidup dalam pasir yang buyar, tidak dalam pasir yang pejal.

Bencana lain yang mengintip adalah dilepaskannya berjenis-jenis material berbahaya dari pabrik senjata kimia, biologi, dan nuklir yang kena gempuran senjata. Aneka jenis racun ini menyebar dan diterbangkan ke seantero Irak, hingga ke negara-negara tetangganya. Limbah radioaktif juga terserak dan tertanam abadi di bumi Irak.

Dalam perang Irak sekarang, peluru yang memanfaatkan depleted uranium masih menjadi primadona (lihat TEMPO Edisi 31 Maret). Uranium bukan limbah yang menyenangkan; ini bahan yang beradioaktif. Dampaknya akan terus terasa melalui berbagai efeknya hingga puluhan tahun usai perang gila ini berakhir.

Selain kerusakan langsung akibat perang, ancaman akan kelestarian alam di Irak juga datang secara tak langsung. Hancurnya sumber-sumber energi listrik akan membuat masyarakat kembali menggunakan kayu sebagai sumber energi. Laju penggundulan hutan (deforestasi) tak bisa dihindari. Padahal, tanpa ini pun, luas hutan di Irak hanya kurang dari 5 persen luas wilayahnya. Beban penghancuran ini akan makin bertambah seiring dengan mobilitas pengungsi dan tentara.

Itu sebabnya, semakin lama perang berlangsung, kerusakan lingkungan akan bertambah parah dan semakin banyak keanekaragaman hayati hilang dari bumi Irak. Padahal, sebagaimana dicatat The Canadian Nature Federation, keanekaragaman hayati di wilayah ini punya nilai tak tergantikan, baik untuk bangsa Irak maupun warga dunia.

Lembah Sungai Eufrat dan Tigris dikenal memiliki aneka spesies unik. Beberapa jenis di antaranya merupakan hewan endemik Mesopotamia dan tak dijumpai di wilayah lain. Di sini terdapat 16 spesies burung yang tanpa perang pun sudah dalam status terancam punah. Termasuk di situ tiga spesies burung unik lahan basah endemik Eufrat.

Wilayah itu meliputi daerah seluas 15 ribu kilometer persegi. Vegetasinya amat beragam, termasuk terdapat sebuah danau air tawar. Lembah ini menjadi tempat bergantung masyarakat Ma'dan, suatu komunitas tradisional yang menyelaraskan hidupnya dengan alam dan memanfaatkan alam dengan cara tradisional. Lahan basah ini juga tempat berkembang biak bagi udang, yang menjadi sumber protein hewani penting di Irak. Sebanyak 60 persen ikan di Irak dipasok dari wilayah ini.

Sialnya, wilayah eksotis ini terbentang di antara Bagdad di utara dan Basra di selatan, jalur strategis yang dijadikan wilayah tempur pada Perang Iran-Irak, 1980-1988. Perlahan-lahan luas wilayah lahan basahnya rusak dan menyusut dahsyat. Kerusakan dan penyusutan kembali terjadi pada 1991. Ledakan bom, pembakaran hutan, desing peluru, dan asap mesiu merontokkan vegetasi hijau di sini. Banyaknya perang yang berkecamuk turut mempercepat punahnya dua mamalia langka dari keluarga rodentia (pengerat). Para ahli lingkungan memperkirakan, perang kali ini akan membawa kehancuran total pada ekosistem lahan basah Eufrat-Tigris.

Dalam jangka panjang, kerusakan alam di Irak akan menambah beban bagi pemerintahan Irak. Pembersihan bangkai tank, pesawat tempur, kapal, dan peralatan berat yang hancur akibat perang membutuhkan alokasi waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Belum lagi buat mengangkat segala macam ranjau yang kadung ditanam, termasuk memadamkan kebakaran dan membersihkan sampah uranium yang ratusan ton banyaknya.

Jika sudah begitu, persoalan merehabilitasi alam dan mengembalikan keanekaragaman hayati akan menjadi prioritas paling buncit. Sebagai negara yang baru dihajar perang, persoalan kemanusiaan lain akan memakan biaya besar. Tak aneh jika Birdlife memprediksi penurunan kualitas hidup akibat rusaknya lingkungan di Irak akan berlangsung lama, teramat lama, bahkan seusai perang.