Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metode Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Mei 2012

Pembelajaran Kelompok Pola Acak

Pembelajaran kelompok dengan pola acak adalah pembelajaran kelompok dengan ketentuan setiap kelompok anggotanya ditentukan secara acak atau diundi. Dimana anggota kelompok ini berbeda-beda tingkat intelegensinya. Kebanyakan siswa yang lebih pandai biasanya mendominasi kelompok sehingga tidak terjadi interaksi antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai dalam suatu kelompok.

Efek perbedaan status terjadi ketika anggota yang berstatus sosial tinggi mengendalikan, sedangkan efek geng pada tugas terjadi ketika anggota-anggota kelompok mereka memutuskan mereka ingin menghindari kerja dan memberikan sedikit usaha dalam rangka menyalesaikan tugas. Efek lain yang teramati yaitu pembagian strategi pemecahan  masalah dan ketidakmampuan yang imbas sosial yang di dalamnya terdapat perasaan individu yang tidak dapat mengerjakan sesuatu karena perilaku anggota lainya. Efek-efek semacam ini harus diwaspadai guru yang menerapkan kerja kelompok dalam pembelajarannya.

Pembelajaran Kelompok Pola Tutorial Sebaya

Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi, siswa tersebut mengajarkan materi/ latihan kepada teman-temannya yang belum faham. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajarkan. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan dan lain-lain.

Tutor Sebaya dikenal dengan pembelajaran teman Sebaya atau antar peserta didik, hal ini bisa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik lain yang kurang mampu. Alternatifnya, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu dalam belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.

Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan peserta didik. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja bersama.

Tutor Sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “Tutor Sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan Tutor Sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.

Dalam penggunaan metode pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti halnya tutor sebaya. Uraian di atas adalah beberapa kelebihan dari metode tutor sebaya sementara kekurangan metode ini antara lain :
- tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya.
- Tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya.

Pengertian Pembelajaran Kelompok

Pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran yang di dalamnya siswa bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan khusus dan menyelesaikan suatu tugas. Pembelajaran kelompok menekankan komunikasi antar siswa dalam tim-tim kecil. Dalam model pembelajaran tersebut siswa diberi kesempatan untuk membicarakan pengamatan mereka, ide-ide mereka dan teori-teori mereka dalam merangka memahami suatu pelajaran. Selain itu dalam pembelajaran ini diciptakan suasana belajar yang dapat memberi kesempatan pada siswa untuk berinteraksi satu dengan yang lain dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam interaksi ini siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka untuk mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain (Lie, 1999:6).

 Belajar kelompok merupakan strategi pembelajaran yang sangat efektif, pembelajaran kelompok merupakan model pembelajaran dimana siswa bersama untuk berfikir, bekerja sama untuk mencapai tujuan khusus atau menyelesaikan sebuah tugas. Berbagai model telah dikembangkan sepeti Tim Siswa Kelompok Prestasi (Student teams Achievement division), STAD , TGT (Teams Games Taurnament), TAI (Teams Assisted Individualization), CIRC (Cooperative Integrated Reading And Compotition), Jigsaw, Kelompok penelitian, belajar bersama, dan sebagainya. Beberapa model menggambarkan bagaimana tugas diatur dan bagaimana kelompok-kelompok itu berevaluasi dan beberapa model lainya siswa bekerja sendiri-sendiri sebuah aspek tugas, mengumpulkan hasil kerja mereka ketika tugas telah selesai dikerjakan.

Senin, 24 Oktober 2011

Kelebihan Dan Kekurangan Metode Ceramah

Setiap metode pelajaran pasti memiliki kelebihan maupun kelemahan. Adapun kelebihan yang diperoleh dari penggunaan metode ceramah adalah:
1. Suasana kelas berjalan dengan tenang, karena murid melakukan aktivitas yang sama, sehingga guru dapat mengawasi murid sekaligus secara komprehensif.
2. Tidak membutuhkan tenaga yang banyak dan waktu yang lama, dengan waktu yang cukup singkat murid dapat menerima pelajaran sekaligus secara bersama.
3. Pelajaran bisa dilaksanakan dengan cepat, karena dalam waktu yang sedikit dapat diuraikan bahan yang banyak.
4. Melatih para pelajar untuk menggunakan pendengarannya dengan baik sehingga mereka dapat menangkap dan enyimpulkan isi ceramah dengan cepat dan tepat.
Kekurangan Metode Ceramah
1. Interaksi cenderung bersifat Centred (berpusat pada guru)
2. Guru kurang dapat mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa telah menguasai bahan ceramah.
3. Mungkin saja siswa memperoleh konsep-konsep lain yang berbeda dengan apa yang dimaksudkan guru.
4. Siswa kurang menangkap apa yang dimaksud oleh guru, jika ceramah berisi ceramah-ceramah yang kurang atau tidak dimengerti oleh siswa dan akhirnya mengarah verbalisme.
Untuk itu usaha-usaha yang harus dilaksanakan untuk mengatasi kelemahan metode ceramah adalah:
 Meberi penjelasan dengan memberikan keterangan-keterangan, dengan gerak-gerik, dengan memberikan contoh atau dengan enggunakan alat peraga.
 Selingilah metode ceramah dengan mmetode yang lain untul menghilangkan kebodanan anal-anak.
 Susunlah ceramah itu secara sistematis
 Penggunaan alat-alat pelajaran visual untuk mepelajari penyajian seperti:
- Papan tulis dan alat-alat teknis papan tulis
- Alat pelajaran dua dimensi: Grafik, bagan dan lain-lainnya.
- Alat pengajaran tiga dimensi: model, market spesiment (bagian dari benda dan sebagainya)
- Gambar-bambar
- Alat-alat pelajaran visual di atas proyeksi, baik dengan menggunakan diskop atau epidiskop. (Ramayulis: 1990: 118-119)
Karena masih banyak kelemahan dalam mmetode ceramah yang murni, aka para pakar pendidikan mulai menggunakan metode ceramah plus yang merupakan percampuran antara metode ceramah murni dengan metode-metode yang lain.

Daftar Rujukan KLIK DI SINI

Pengertian dan Pelaksanaan Metode Ceramah

A. Pengertian Metode
Agar tujuan dalam proses belajar mengajar dapat tercapai secara efektif dan efisien, keampuan seorang pendidik dala enguasai materi saja tidaklah mencukupi. Disamping penguasaan materi, seorang pendidik juga harus memiliki keampuan untuk mengelolah proses belajar mengajar dengan baik, yaitu melalui berbagai teknik atau metode penyampaian materi yang tepat dala proses belajar mengajar sesuai dengan materi yang diajarkan dan kemampuan anak didik yang menerima materi.
Istilah metode berasal dari dua kata yaitu meta dan hodos. Meta berarti" Melalui" dan hodos berarti" Cara" . dengan demikian, metode dapat berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai sebuah tujuan. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa Meted adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin tersebut. Pada intinya, metode berfungsi sebagai pengantar sebuah tujuan kepada obyek dadaran dengan cara yang sesuai dengan perkembangan obyek sasaran tersebut.
Sebagaimana kita tahu, bahwa metode mengajar merupakan sasaran interaksi antara guru dengan siswa dalam kegiatan belajar engajar. Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah ketepatan sebuah metode mengajar yang dipilih dengan tujuan, jenis dan sifat materi pelajaran, serta kemampuan guru dalam memahami dan melaksanakan metode tersebut. Guru hendaknya cermat dalam memilih dan menggunakan metode mengajar terutama yang banyak melibatkan siswa secara aktif.
Belajar mengajar merupakan kegiatan yang koplek. Oleh karenanya, maka hampir tidak mungkin untuk menunjukkan dan menyimpulkan bahwa suatu metode belajar mengajar tertentu lebih unggul dari pada metode belajar mengajar yang lain dalam usaha mencapai tujuan pembelajaran.


B. Pengerti Metode Ceramah
Menurut Nana Sudjana ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak senantiasa jelek bila penggunaannya dipersiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, sera memperhatikan batas-batas penggunaannya. ( Nana Sudjana 2000:77). Menurut Drs. Muhaimin MA, dkk metode ceramah merupakan kombinasi dari metode hafalan, diskusi dan Tanya jawab (Muhaimin, dkk, 1996: 83). Sedangkan menurut W. Scham dala bukunya "the process and effects of mass communication" dala hal ingatan sesuatu yang disampaikan dengan lisan lebih laa ingata dari pada disampaikan dengan tulisan. Selain itu, mmetode ceramah itu pada umumnya dilakukan secara pebicaraan face to face hal ini menurut W. Schram adalah sangat efektif.
Dalam metode ceramah ( lecture method) adalah sebuah cara Melaksanakan pengajaran yang dilakukan oleh guru secara mon0olog dan hubungan satu arah (one way communication), metode ini dipandang paling efektif dala mengatasi kelangkaan literature atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya faha siswa.

C. Pelaksanaan Metode Ceramah
Penerapan metode ceramah merupakan cara mengajar yang paling tradisional dan tidak asing lagi dan telah lama dijalankan dalam sejarah pendidikan. Cara ini kadang membosankan, maka dalam pelaksanaannya memerlukan ketrampilan tertentu, agar penyajiannya tidak membosankan dan dapat menarik perhatian siswa. Namun kita masih mengakui bahwa metode ceramah ini tetap penting dengan tujuan, agar siswa mendapatkan informasi tentang suatu pokok atau persoalan tertentu.
Metode ini wajar dan dapat digunakan dalam hal-hal sebagai berikut:
 Bahan pelajaran yang akan disampaikan cukup banyak sementara waktu yang tersedia sangat terbatas.
 Guru seorang pembicara yang baik yang memikat serta antusias.
 Guru akn merangkum pokok penting pelajaran yang telah dipelajari, sehingga siswa diharapkan bisa memahami dan mengerti secara menyeluruh.
 Guru memperkenalkan pokok pelajaran yang baru dan menghubungkannya terhadap pelajaran yang telah lalu (Asosiasi).
 Jumlah siswa terlalu banyak sehingga bahan pelajaran sulit disapaikan melalui metode ini.
Langkah-langkah penerapan metode ceramah
Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan metode ceramah adalah sebagai berikut:
a. Langkah Persiapan
Persiapan yang dimaksud disini adalah enjelaskan kepada siswa tentang tujuan pelajaran dan pokok-pokok masalah yang akan dibahas dalam pelajaran tersebut. Disamping itu, guru memperbanyak bahan appersepsi untuk membantu mereka memahami pelajaran yang akan disajikan.
b. Langkah Penyajian
Pada tahap ini guru menyajikan bahan yang berkenaan dengan pokok-pokok masalah.
c. Langkah Generalisasi
Dalam hal ini unsur yang sama dan berlainan dihimpun untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan mengenai pokok-pokok masalah.
d. Langkah Aplikasi Penggunan
Pada langkah ini kesimpulan yang diperoleh digunakan dalam berbagai situasi sehingga nyata makna kesimpulan itu.
Namun perlu diketahui juga bahwa untuk menggunakan metode ceramah secara murni itu sukar, maka dala pelaksanaannya perlu menaruh perhatian untuk mengkombinasikan dengan teknik-teknik penyajian lain sehingga proses belajar mengajar yang dilaksanakan dapat berlangsung dengan intensif.

Daftar Rujukan KLIK DI SINI

Sabtu, 15 Oktober 2011

Penggunaan Metode Resitasi dalam Pembelajaran

Dalam penggunaan metode resitasi di kelas II SMA Negeri 1 Batu, ada beberapa langkah yang telah dilakukan oleh pengajar, antara lain:
a. Fase Memberikan Tugas.
Yaitu guru memberikan tugas pada siswa baik itu secara petseorangan atau kelompok. Dan hasil yang diperoleh dapat sesuai dengan yang diinginkan, hendaknya tugas yang diberikan pada siswa memperhatikan:
1. Tujuan yang akan dicapai.
2. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
3. Sesuai dengan kemampuan siswa.
4. Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
5. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
b. Langkah pelaksanaan.
1. Diberikan bimbingan atau pengawasan.
2. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
3. Diusahakan dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.
4. Diajurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dan sistematis.
c. Fase mempertanggung jawabkan Tugas
Hal yang harus dikerjkan siswa pada fase ini, antara lain:
1. Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjaknnya.
2. Ada tanya jawab atau diskusi kelompok.
3. Penelitian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya.
Dengan fase mempertanggunag jawabkan inilah yang disebut dengan resitasi. (Drs. Syaiful Bahri D: 2002).
Sedangkan menurut Zakiah Darajat: 2001, pemberian tugas dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Siswa diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku atau teks, baik secara kelompok atau individu, diberi waktu tertentu untuk mengerjakanya, kemudian murid yang bersangkutan mempertanggung jawabkanya.
2. Siswa diberi tugas untuk melaksanakan sesuatu yang tujunnya melatih mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan motorik.
3. Siswa diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu denan cara mencobah untuk memecahkannya, dengan tujuan agar siswa biasa berfikir ilmiah dalam memecahkan suatu masalah.
4. Siswa diberi tugas untuk mengerejakan suatu proyek, dengan tujuan agar siswa terbiasa untuk bertanggung jawab terhadap penyalesaian suatu masalah yang telah disediakan dan bagaimana mengelola selanjutnya.
Dalam pemberian metode tugas atau resitasi ini supaya bisa sesuai dengan yang diinginkan maka ada beberapa syarat yang harus diketahui oleh pendidik dan siswa yang diberi tugas, yaitu:
1. Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang telah mereka pelajari, sehingga murid disamping sanggup mengerjakan juga sanggup menghubungkan dengan pelajaran-pelajaran tertentu.
2. Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang diberikan kepada siswa akan dapat dilaksanakannya karena sesuai dengan kesanggupan dan kecerdasan yang dimilikinya.
3. Guru harus mananamkan keadaan murid bahwa tugas yang diberikan pada siswa akan dikerjakan atas kesadaran sendiri yang timbul dari hati sanubarinya.
4. Jenis tugas yang diberikan harus dimengerti benar-benar sehingga murid tidak ada keraguan dalam melaksanakanya.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi

Dalam penggunaan suatu metode itu pasti akan luput dari suatu kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan metode ini.
a. Kelebihan Metode Resitasi
1. Pengetahuan siswa akan lebih luas dan sifat verbalismenya akan semakin berkurang.
2. Siswa lebih mendalami dan menglami sediri pengetahuan yang di carinya, sehingga pengetahuan itu akan tinggal lama dalam ingatan jiwanya.
3. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individu atau kelompok.
4. Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.
5. Dapat menumbuhkan kreatifitas, usaha, tanggung jawab, dan sikap mandiri siswa, serta memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa.
b. Kelemahan Metode Resitasi (tugas), antara lain:
1. Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia mengerjakan tugas atau orang lain yang mengerjakan.
2. Sulit memerikan tugas yang sesuai dengan masing-masing individu.
3. Khusus untuk tugas kelompok tidak jarang yang aktif mengerjkan dan menjelasakan hanyalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota yang lain tidak ikut berpartisipasi dengan baik.
4. Sering memberikan tugas yang monoton, dan menimbulkan kebosanan.
5. Penggunaan metode resitasi (tugas) dalam meningkatkan kesiapan dan hasil mata pelajaran Sosiologi.

Pengertian Metode Resitasi

Yang dimaksud dengan metode resitasi atau penugasan adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar, yang mana kegiatan itu dapat dilakukan di dalam kelas, di halamn sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, dirumah ataupun dimana saj asal tugas itu dapat di selasaikan.
Menurut Roestiyah dikatakan bahwa resitasi adalah suatu metode dengan cara menyusun laporan sebagai hasil dari apa yang di pelajari. Resitasi (penugasan) dapat berupa perintah kemudian siswa mempelajari bersama teman atau sendiri dan menyusun laporan atau resume kemudian diesok harinya hasil laporan didiskusikan dengan seluruh siswa di kelas.

Metode resitasi biasanya diberikan atau digunakan oleh guru dengan tujuan agar siswa itu memiliki hasil belajar yang lebih mantab, dan untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. Resitasi di berikan untuk memperoleh pengetahuan dengan cara melaksanakan tugas dan juga dapat memperluas dan meperkaya pengetahuan serta ketrampilan siswa disekolah melalui kegiatan luar sekolah.

Dalam percakapan sehari-hari metode ini dikenal dengan sebutan pekerjaan rumah, tetapi sebenarnya metode ini terdiri dari tiga fase, antara lain (1) pendidik memberi tugas. (2) anak didik melaksanakan tugas (belajar). (3) Siswa mempertanggung jawabkan apa yang telah dipelajari (resitasi).

Panerapan metode resitasi (tugas), diberikan dengan harapan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksakan latihan-latihan selama melaksanakan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi. Dan dengan metode ini diharapkan siswa dapat belajar bebas tapi bertanggung jawab, dan murid-murid akan berpengalaman, dan bisa mengetahui berbagai kesulitan. Dengan metode ini siswa mendapatkan kesempatan untuk saling membandingkan dengan hasil sisa yang lain, menarik anak didik agar belajar lebih baik, punya tanggung jawab dan berdiri sendiri. (Roesriyah N. K, 1989).

Metode resitasi ini digunakan atau di berikan untuk merangsang anak agar tekun, rajin, dan giat belajar, sehingga pada pada saat kegiatan belajar mengajar mereka sudah siap. Selain itu metode ini diberikan karena dirasa bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit, dalam artian bahan banyak tapi waktu kurang seimbang. Agar bahan yang diberikan dapat sesui dengan waktu yang ada maka metode ini bisa diberikan. Metode resitasi (tugas) dapat berupa antara lain:
1. Menyusun karya tulis
2. Menyusun laporan mengenai bahan bacaan atau menyusun berita.
3. Menjawab pertanyaan yang ada dalam buku
4. tugas lain yang dapat menujang keberhasilan siswa, dll

Pemberian tugas atau resitasi dapat diberikan diawal pelajaran ataupun diakhir pelajaran, baik itu secara individu atau secara kelompok, didalam kelas atau di lar kelas. Dalam pemberian tugas atau resitasi ini agar dapat berhasil dalam pelaksanaannya, maka seoang guru harus memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tugas itu harus jelas dan tegas
2. Suatu tugas harus disertai dengan penjelasan tentang yang akan dihadapi.
3. Tugas harus berhubungan dengan yang anak pelajari
4. Tugas harus berhubungan atau di sesuaikan dengan minat siswa
5. Tugas harus disesuaikan dengan waktu yang dimiliki siswa
6. Dan sebagainya

Selain beberapa poin diatas yang harus diperhatikan oleh guru yaitu etiap pemberian tugas diharapkan agar mengecek tugas yang diberikan, sudah dikerjakan atau belum, kemudian dievaluasikan untuk memotivasi siswa dan untuk mengetahui hasil kerja siswa. Dengan demikian dapat bertanggung jawab terhadap tugasnya, selai itu siswa dapat lebih termotivasi untuk mempelajari materi yang akan disampaikan, khususnya pada materi Sosiologi, sehingga ketika menerima pelajaran sudah siap, dan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Artikel Pembelajaran: Pengertian Metode Mengajar

Mengajar adalah salah satu tugas utama guru, yang disebut dengan fungsi instruksional. Dalam menggunakan fungsi instruksional itu, penggunaan dan penerapan metode pengajaran merupakan salah satu faktor yang penting yang ikut andil dalam kegiatan belajar mengajar.

Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu.
Secara umum atau luas metode atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar dan mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad (1961), mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah.

Pasaribu dan simanjutak (1982), mengatakan bahwa metode adalah cara sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Jadi metode pelajaran adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan.

Dalam kegiatan belajar mengajar seorang guru tidak harus terpaku dalam menggunakan berbagai metode (variasi metode) agar proses belajar mengajar atau pengajaran berjalan tidak membosankan, tetapi bagaimana memikat perhatian anak didik. Namun di sisi lain penggunaan berbagai metode akan sulit membawa keberuntungan atau manfaat dalam kegiatan belajar mengajar, bila penggunaannya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang mendukungnya, serta kondisi psikologi anak didik. Maka dari itu disini guru di tuntut untuk pandai-pandai dalam memilih metode yang tepat, (Syaiful Bahri, D. 2002).

Berkaitan dengan metode yang tepat, dalam hal ini pasiburi dan simanjutak, mengatakan bahwa dalam nenentukan metode mana yang akan di ikuti oleh guru dalam penggunaan metode guru harus memperhatikan berbagai macam faktor, diantaranya yaitu:
1. Metode dan tujuan sekolah
2. Metode dan bahan pengajaran
3. Metode dan tangga-tangga belajar
4. Metode dan tingkat perkembangan
5. Metode dan keadaan perseorangan
6. Dasar tertinggi dari metode
Selain itu Prof Dr. Winarno S, mengatakan ada 5 macam yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar antara lain: tujuan berbagai jenis dan fungsinya, anak didik yang berbagai tingkat kematangannya, situasi yang berbagai macam keadaan, fasilitas yang berbagai kualitasnya, pribadi guru seta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda

Jumat, 14 Oktober 2011

Artikel Pembelajaran: Prinsip Dan Kelebihan Metode Drill

1. Prinsip Dan Petunjuk Menggunakan Metode Drill
a. Siswa harus diberi pengertian yang mendalam sebelum diadakan latihan tertentu.
b. Latihan untuk pertama kalinya hendaknya bersikap diagnostik:
1 Pada taraf permulaan jangan diharapkan reproduksi yang sempurna.
2 Dalam percobaan kembali harus diteliti kesulitan yang timbul.
3 Respon yang benar harus diperkuat.
4 Baru kemudian diadakan variasi, perkembangan arti dan kontrol
c. Masa latihan secara relativ singkat, tetapi harus sering dilakukan.
d. Pada waktu latihan harus dilakukan proses essensial.
e. Di dalam latihan yang pertama-tama adalah ketepatan, kecepatan dan pada akhirnya kedua-duanya harus dapat tercapai sebagai kesatuan.
f. Latihan harus memiliki arti dalam rangka tingkah laku yang lebih luas.
1 Sebelum melaksanakan, pelajar perlu mengetahui terlebih dahulu arti latihan itu.
2 Ia perlu menyadari bahwa latihan-latihan itu berguna untuk kehidupan selanjutnya.
3 Ia perlu mempunyai sikap bahwa latihan-latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar.

2. Keuntungan Atau Kebaikan Metode Drill
a. Bahan pelajaran yang diberikan dalam suasana yang sungguh-sungguh akan lebih kokoh tertanam dalam daya ingatan murid, karena seluruh pikiran, perasaan, kemauan dikonsentrasikan pada pelajaran yang dilatihkan.
b. Anak didik akan dapat mempergunakan daya fikirannya dengan bertambah baik, karena dengan pengajaran yang baik maka anak didik akan menjadi lebih teratur, teliti dan mendorong daya ingatnya.
c. Adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera serta langsung dari guru, memungkinkan murid untuk melakukan perbaikan kesalahan saat itu juga. Hal ini dapat menghemat waktu belajar disamping itu juga murid langsung mengetahui prestasinya.

Daftar Rujukan:
1. Abu, Ahmad. 1986. Metode Khusus Pendidikan Agama. Bandung: CV Amrico, hal: 152
2. Nana, Sudjana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru, hal: 86
3. Muhaimin, Abdul Mujib. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya, hal: 226-228
4. Roestiyah, NK. 1989. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara, hal: 125
5. Winarno, Surakhmad. 1994. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito, hal: 92

Artikel Pembelajaran: Tujuan dan Syarat-Syarat Dalam Metode Drill

1. Tujuan Penggunaan Metode Drill
Metode Drill biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa :
a. Memiliki kemampuan motoris/gerak, seperti menghafalakan kata-kata, menulis, mempergunakan alat.
b. Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan.
c. Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan yang lain.

2. Syarat-Syarat Dalam Metode Drill
1. Masa latihan harus menarik dan menyenangkan.
a. Agar hasil latihan memuaskan, minat instrinsik diperlukan.
b. Tiap-tiap langkah kemajuan yang dicapai harus jelas.
c. Hasil latihan terbaik yang sedikit menggunakan emosi
2. Latihan –latihan hanyalah untuk ketrampilan tindakan yang bersifat otomatik.
3. Latihan diberikan dengan memperhitungkan kemampuan/ daya tahan murid, baik segi jiwa maupun jasmani.
4. Adanya pengerahan dan koreksi dari guru yang melatih sehingga murid tidak perlu mengulang suatu respons yang salah.
5. Latihan diberikan secara sistematis.
6. Latihan lebih baik diberikan kepada perorangan karena memudahkan pengarahan dan koreksi.
7. Latihan-latihan harus diberikan terpisah menurut bidang ilmunya.

Daftar Pustaka KLIK DI SINI

Artikel Pembelajaran: Definisi dan Macam-Macam Metode Drill

1. Definisi Metode Drill
Sebelum mendefinisikan tentang metode drill terlebih dahulu mengetahui tentang metode mengajar itu sendiri. Metode mengajar adalah cara guru memberikan pelajaran dan cara murid menerima pelajaran pada waktu pelajaran berlangsung, baik dalam bentuk memberitahukan atau membangkitkan. Oleh karena itu peranan metode pengajaran ialah sebagai alat untuk menciptakan proses belajar mengajar yang kondusif. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan mengajar guru, dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif antara guru dengan siswa. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan dengan baik jika siswa lebih aktif di bandingkan dengan gurunya. Oleh karenanya metode mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa dan sesuai dengan kondisi pembelajaran.
Salah satu usaha yang tidak boleh ditinggalkan oleh guru adalah bagaimana guru memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang mempengaruhi dalam proses belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh tetapi nyata dan memang betul-betul dipikirkan oleh guru.
Dari definisi metode mengajar, maka metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.
Dalam buku Nana Sudjana, metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu ketrampilan agar menjadi bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang berkali-kali dari suatu hal yang sama.
Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk di pergunakan oleh yang bersangkutan.

2. Macam-Macam Metode Drill
Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu sebagai berikut :
a. Teknik Inquiry (kerja kelompok)
Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.
b. Teknik Discovery (penemuan)
Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi.
c. Teknik Micro Teaching
Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai guru.
d. Teknik Modul Belajar
Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan (kompetensi).
e. Teknik Belajar Mandiri
Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Daftar Rujukan KLIK DI SINI

Artikel Pembelajaran: Metode Diskusi dalam Pembelajaran

Pengertian Metode Diskusi
Yang dimaksud dengan metode diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Dan diskusi tidak sama dengan berdebat, diskusi selalu diarahkan kepada pemecahan masalah yang menimbulkan berbagai macam pendapat dan akhirnya diambil suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh anggota dalam kelompoknya (Abu Ahmadi, 1986: 114).
Sedangkan menurut Muhibbin, metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan belajar memcahkan masalah (Problem Solving), metode ini lazim disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama (socialitized recitation). Dan metode diskusi sendiri dimaksudkan untuk merangsang pemikiran serta berbagai jenis pandangan (Muhaimin, dkk, 1996: 83).
2. Jenis-jenis Diskusi
Untuk dapat malaksanakan diskusi di kelas, seorang Guru harus mengetahui terlebih dahulu tentang jenis-jenis diskusi, sehingga dalam pelaksanaannya nanti dapat menyesuaikan jenis diskusi apa yang akan digunakan. Ditinjau dari sudut formalitas dan jumlah peserta yang mengikutinya, diskusi digolongkan menjadi:
1. Diskusi Formal
Diskusi ini terdapat pada lembaga-lembaga pemerintahan atau semi pemerintahan, dimana dalam diskusi itu perlu adanya ketua dan penulis serta pembicara yang diatur secara formal, contoh: sidang DPR 9Abu Ahmadi, 1986: 114). Sedang menurut M. Syah, aturan yang dipakai dalam diskusi ini biasanya ketat dan rapi. Jumlah peserta siswa yang menjadi peserta pun umumnya lebih banyak bahkan dapat melibatkan seluruh siswa kelas. Ekspresi spontan dari peserta biasanya dilarang sebab tiap peserta yang akan berbicara harus seizin moderator untuk menjamin ketertiban lalu lintas diskusi.
2. Diskusi Informal
Aturan dalam diskusi ini lebih longgar dari pada yang dipakai dalam diskusi-diskusi lainnya, karena sifatnya yang tidak resmi. Penerapannya bias dalam diskusi keluarga, dan dalam belajar mengajar dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar dimana satu sama lain bersifat “Face to face relationship”.
3. Diskusi Panel
Dalam diskusi ini ada dua kategori peserta, yaitu: peserta aktif dan non aktif. Peserta aktif langsung melibatkan diri dalam diskusi, sedangkan peserta non aktif hanya menjadi pendengar. Adakalanya peserta non aktif ini terdiri dari beberapa kelompok yang memiliki wakil-wakil yang ditugasi berbicara atas nama kelompoknya.
4. Diskusi dalam bentuk Symposium
Diskusi ini hampir sama dengan diskusi formal lainnya, hanya saja diskusi symposium disampaikan oleh seorang pemrasaran atau lebih (umumnya lebih). Pemrasaran secara bergiliran menyampaikan uraian pandangannya mengenai topic yang sama atau salah satu dari topic yang sama tersebut. Dan diskusi symposium ini biasanya tidak mencari kebenaran tertentu.
5. Lecture Discussion
Diskusi ini dilaksanakan denga membeberkan suatu persolan, kemudian didiskusikan. Disini biasanyan hanya satu pandanan atau satu persoalan saja.
Sedangkan bila distinjau dari segi pola pemusatan orang yang berperan dalam diskusi di sekolah, metode ini terbagi dua yaitu :

1. Pola diskusi Teacher Centrallity (terpusat pada guru)
2. Pola diskusi student cenrtrality (terpusat pada siswa).
Masing-masing mempunyai ciri khas sendiri, terapi tidak mengurangi kontribusi aktif para siswa peserta (Surya, 1982).
1. Pola Teacher Centrallity (terpusat pada guru)
Peranan guru disini adalah :
- Indikator : Peserta yang menampilkan agenda masalah yang akan dijadikan topik diskusi.
- Direktur : Peserta yang mengarahkan pembicaraan pada agenda masalah yang akan dibicarakan.
- Moderator : peserta yang diberi wewenang yang mengatur laju pembicaraan para partisipan (siswa peserta)
- Evaluator: penilai partisipasi dan kemajuan para partisipan baik sebagai individu dan kelompok.

2. Pola Student Centrallity (terpusat pada siswa)
Peran siswa partisipan adalah sebagai berikut :
- Sebagai moderator : yang layak memimpin diskusi
- Kontributor : pemberi kontribusi pertanyaan, sanggahan, saran dan sebagainya.
- Encourager : pemberi dorongan dan kesempatan kepada sesama partisipan untuk turut aktif memberi kontribusi
- Evaluator : penilai jalanya pembahasan dan keputusan/kesimpulan/jawaban yang disodorkan oleh guru sebagai moderator.
3. Aplikasi Metode Diskusi
Pada dasarnya metode diskusi diaplikasikan dalam Proses Belajar Mengajar untuk :
a. Mendorong siswa berpikir kritis.
b. Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas
c. Mendorong siswa mengembangkan pikirannya untuk memecahkan masalah bersama.
d. Mengambil satu alternatif jawaban/beberapa alternatif jawaban untjuk memecahkan masalah berdasarkan pertimbangan yang seksama
e. Membiasakan peserta didik suka mendengar pendapat orang lain sekalipu berbeda dengan pendapatnya sendiri
f. Membiasakan bersikap toleran
Dari apa yang telah diuraikan, sesungguhnya aplikasi metode diskusi mempunyai sisi positif dan sisi negatif.
- Sisi positif
1. Suasana belajar mengajar di kelas akan berkembang. Hal itu dapat di ketahui karena konsentrasi siswa akan terfokus kepada masalah yang sudah didiskusikan. Sehingga partisipasi siswa dalam metode ini sangat dituntut pertanyaannya.
2. Memberikan pelajaran bersikap toleran, demokrat, kritis dan berfikir sistematis kepada siswa.
3. Kesimpulan-kesimpulan dari masalah yang sedang didiskusikan dapat secara mudah diingat siswa. Hal itu disebabkan karena siswa mengikuti alur berfikir diskusi.
4. Memberikan pengalaman kepada siswa tentang etika bermusyawarah.
- Sisi Negatif
1. Jalannya diskusi akan lebih sering didominasi oleh siswa yang pandai. Sehingga mengurangi peluang siswa yang lain untuk berpartisipasi
2. Jalannya diskusi sering dipengaruhi oleh pembicaraan yang menyimpang dari topik pembahasan masalah, sehingga pembahasan melebar kemana-mana.
3. Diskusi biasanya lebih banyak memboroskan waktu, sehingga tidak sejalan dengan prinsip efisiensi (Barlow, 1985; Darajat, 1985).
Mengingat adanya kelemahan-kelemahan di atas, maka Guru yang berkehendak menggunakan metode diskusi sebaiknya mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan sistematis terlebi dahulu. Dan dalam hal ini, peran seorang Guru sebagai encourager yang memberi encouragement (dorongan semangat dan membesarkan hati) sangat diperlukan, terutama oleh peserta yang tergolong kurang pintar atau pendiam.

Daftar Rujukan:

1. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2001, Cet. I.
2. Arief Furchan, Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan: Terj. Introduction To Research In Education, Usaha Nasional, Surabaya.
3. Muhaimin, dkk, Strategi Belajar Mengajar: Penerapannya Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama, CV. Citra Media, Surabaya, 1996, Cet. I.
4. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosda Karya, 1999, Cet. IV.
5. Abu Ahmadi, Netode Khusus Pendidikan Agama Islam, PT. Bima Aksara, Jakarta, 1986.

Artikel Pembelajaran: Pengertian Metode Pengajaran

Metode secara bahasa berarti cara, sedang dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosedur sistematis (tata cara yang berurutan) yang biasa digunakan untuk menyelidiki fenomena kejiwaan seperti metode klinik, metode eksperimen dan sebagainya.

Yang dimaksud dengan metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa (Tardif, 1989). Dan bagian penting yang sering dilupakan orang adalah strategi mengajar yang sesungguhnya melekat erat dalam metode mengajar (Muhibbin Syah, 1999: 201).

Dalam kaitannya dengan materi pelajaran Aqidah Akhlak sebagai salah satu pendidikan agama Islam di sekolah dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Strategi Pengorganisasian
Yaitu suatu metode untuk mengorganisasi isi bidang studi pendidikan agama Islam yang dipilih untuk pembelajaran. Hal ini mengacu pada :
- Kegiatan pemilihan isi
- Penataan isi
- Pembuatan diagram
- Skema
- Format
- Dsb.

2. Strategi Penyampaian
Yaitu metode penyampaian pembelajaran yang dikembngkan untuk membuat siswa dapat merespon dan menerima pelajaran yang diberikan dengan mudah, cepat dan menyenangkan.

3. Strategi Pengelolaan Pembelajaran
Yaitu metode yang dipergunakan untuk mengatur hubungan antara peserta didik dengan elemen-elemen metode pembelajaran lain, seperti pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini antara lain:
- Proses penyusunan jadwal kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terkandung tahap-tahap kegiatan yang harus ditempuh peserta didik
- Proses pembuatan catatan perubahan belajar siswa melalui penilaian yang komprehensif selama proses pembelajaran berlangsung atau sesudahnya.
- Proses pengelolaan motivasi belajar siswa dengan menciptakan cara-cara yang mampu meningkatkan prestasi belajar.
- Kontrol belajar yang mengacu kepada pemberian kebebasan untuk memilih tindakan belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik (Muhaimin, 2001: 151-152).
Namun, berbeda dengan strategi belajar (Teaching Strategy), metode mengajar tidak langsung berhubungan dengan hasil belajar yang dikehendaki. Artinya, dibandingkan dengan strategi, pada umumnya metode kurang berorientasi pada tujuan (Less Good Oriented) karena metode dianggap mempunyai konsep yang lebih luas dari pada strategi. Gagasan ini tidak berarti mengurangi signifikansi metode mengajar, lantaran strategi mengajar itu ada dan berlaku dalam kerangka metode mengajar.

Ciri Khas Metode Mengajar
Setiap metode mengajar pasti memiliki keunggulan dan kelemahan yang khas. Namun, kenyataan ini tidak bisa dijadikan argumen “mengapa seorang Guru gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar”.

Sebaliknya, Guru yang profesional dan kreatif justru hanya akan memilih metode mengajar yang lebih tepat setelah menetapkan topik pembahasan materi dan tujuan pelajaran serta jenis kegiatan belajar siswa yang dibutuhkan. Kegiatan ini dibandingkan dengan ciri khas atau karakteristik metode-metode mengajar yang akan dipilih (Muhibbin Syah, 1999: 202).

Daftar Pustaka Lihat DI SINI

Artikel Pembelajaran: Metode Ceramah dan Metode Tanya Jawab

1. Metode ceramah
Metode ceramah ini sejak lama oleh orang-orang Yunani Hindu dari Cina dipergunakan untuk menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada murid-murid.
Metode ceramah ini juga disebut metode memberitahukan atau metode kuliah (lecture method). Sebenarnya metode ini bukan hanya memberikan informasi atau fakta-fakta tetapi ceramah dimaksudkan juga menjelaskan/menguraikan kepada murid mengenai suatu masalah, topik atau pertanyaan. Adapun metode ceramah ini tepat digunakan:
a. Apabila guru akan menyampaikan bahan kepada murid yang besar jumlahnya.
b. Untuk membangkitkan minat, hasrat, antusiasme, emosi dan apresiasi.
c. Memberikan keterangan kepada murid untuk memecahkan masalah jika murid menghadapi kesulitan.
d. Apabila tidak ada waktu untuk diskusi sedangkan pelajaran yang disampaikan terlalu banyak.
2. Kelebihan dan kelemahan metode ceramah
a. Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan pelajaran yang banyak.
b. Guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah walaupun jumlah murid cukup besar.
c. Apabila guru berhasil baik maka dapat menimbulkan semangat, kreasi, yang konstruktif, yang merangsang murid untuk belajar.
d. Metode ini lebih fleksibel artinya jika waktu terbatas maka bisa disampaikan garis besarnya saja, sebaliknya jika waktu yang disediakan banyak maka bahan/materi bisa diperjelas lebih mendalam.
Sedangkan kelemahan guru tidak mampu mengontrol sejauh mana siswa memahami uraiannya. (Dra. Roestyah: 1991, 138)
Oleh karena itu untuk mengatasi kelemahan tersebut di samping menggunakan metode ceramah, penulis juga menggunakan metode tanya jawab.
3. Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara penyampaian pelajaran oleh guru dengan jalan mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Metode ini dimaksudkan untuk meninjau pelajaran yang lalu agar para murid memusatkan lagi perhatiannya tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkan pada pelajaran berikutnya dan untuk merangsang perhatian murid. Metode ini dapat digunakan sebagai spersepsi, selingan, dan evaluasi. (Drs. Imansjah Ali Pandie; 1984, 79).
Penggunaan metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang cukup wajar dan tepat, apabila penggunaannya dipergunakan untuk:
1. Merangsang agar perhatian anak terarah pada suatu bahan pelajaran yang sedang dibicarakan.
2. Mengarahkan proses berfikir dan pengamatan anak didik.
3. Meninjau atau melihat penguasaan anak didik terhadap materi/bahan yang telah diajarkan sebagai bahan pertimbangan untuk melanjutkan materi berikutnya
4. Melaksanakan ulangan, evaluasi dan memberikan selingan dalam ceramah (Zuhairini, 1993)

4. Kelebihan dan kelemahan metode tanya jawab
Sebagai salah satu metode interaksi edukatif, metode tanya jawab mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode lainnya. Di samping terdapat kelemahan-kelemahannya. Menurut Imansyah Ali Pandie kelebihan metode tanya jawab terletak pada:
1. Suasana kelas lebih hidup karena murid-murid berpikir aktif.
2. Sangat positif untuk melatih anak untuk berani mengemukakan pendapat secara lisan dan teratur.
3. Murid yang biasanya malas memperhatikan menjadi lebih hati-hati dan sungguh-sungguh mengikuti pelajaran.
4. Walaupun pelajaran berjalan agak lambat tetapi guru dapat melakukan kontrol terhadap pemahaman murid.
Sedangkan kelemahan terdapat apabila
1. Terjadi perbedaan pendapat/jawaban maka akan terjadi perdebatan sengit sehingga mamakan waktu banyak untuk menyelesaikan, terkadang murid mengalahkan pendapat guru.
2. Kemungkinan timbul penyimpangan dari pokok persoalan.
3. Memakan waktu yang lama untuk merangkum bahan pelajaran.