Sabtu, 29 Oktober 2011

Makalah Pendidikan: Konsep dan Pengertian Manajemen Kelas

Dengan adanya otonomi daerah sekarang ini muncul sebuah keputusan baru sektor pendidikan  dalam upaya peningkatan mutu pendidikan sekolah yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dari sini setiap kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses pembelajaran dengan melakukan supervisi kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Disamping itu juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, serta studi banding antar sekolah untuk menyerap dan menfilter kiat-kiat kepemimpinan kepala sekolah yang lain.
Dalam rangka mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien, guru harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik di kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru harus mengorganisasikan kelasnya dengan baik, jadwal pelajaran, pembagian tugas, peserta didik, kebersihan, keindahan serta ketertiban kelas. Pengaturan tempat duduk peserta didik, penempatan alat-alat harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Manajemen kelas yang baik memungkinkan guru mengajar dengan baik, karena kelas yang terhindar dari konflik menjadikan guru mengembangkan kemampuannya sehingga terjadi hubungan yang efisien dengan siswanya.[1] Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. Kreatifitas dan daya cipta guru untuk mengimplementasikan MBS perlu terus menerus didorong dan dikembangkan.[2]
Sebelum kita membicarakan tentang definisi manajemen kelas, terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan manajemen dan kelas.
Menurut Made Pidarta dalam bukunya Manajemen Pendidikan Indonesia sebagaimana yang telah dikutip oleh Mujamil Qomar, mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dalam mengintegrasikan sumber-sumber (mencakup orang-orang, alat-alat, media bahan-bahan uang dan sarana semuanya) diarahkan dan dikoordinasi agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan. [3]
Adapun menurut Nawawi, bahwa kelas adalah sebagai suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan pembelajaran yang kreatif  untuk mencapai suatu tujuan”.[4]
Dengan demikian, yang dimaksud dengan kelas bukan hanya kelas yang merupakan ruangan yang dibatasi dinding tempat para siswa berkumpul bersama untuk mempelajari segala yang disajikan oleh pengajar, tetapi lebih dari itu kelas merupakan satuan unit kecil siswa yang berinteraksi dengan guru dalam proses pembelajaran dengan beragam keunikan yang dimiliki, contoh: aspek fisik, psikis, latar keluarga, bakat dan minat. Seluruh aspek tersebut perlu ditanggapi secara positif sebagai faktor pemacu dalam mewujudkan situasi dinamis yang dapat berlangsung dalam kelas, sehingga segenap siswa diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara efektif dan terarah sesuai dengan tugas-tugas perkembangan mereka. Dan situasi seperti inilah yang akan mendorong terciptanya kerjasama sekaligus persaingan yang sportif dalam meraih prestasi belajar. Hubungan manusiawi yang efektif ini dapat menjadi motivator belajar siswa, dan merupakan faktor pendukung bagi penciptaan lingkungan yang kondusif bagi pelaksanaan proses belajar mengajar. Selain itu Nawawi juga menegaskan bahwa definisi kelas dibagi dua yaitu:
1) Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2) Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.[5]
Berdasarkan pendapat tentang manajemen dan kelas dari para ahli diatas, maka  pengertian manajemen kelas adalah antara lain:
 Menurut Pidarta seperti yang telah dikutip oleh Saiful Bakhri, mengatakan bahwa “Manajemen kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problem kelas. Ini berarti guru bertugas menciptakan, memperbaiki dan memelihara sistem/ organisasi kelas, sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya pada beberapa tugas individualnya”.[6]
Menurut Sudirman, bahwa “Manajemen kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas, karena itu kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif, maka agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola sebaik-baiknya oleh guru”.[7]
Dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik garis tengah, bahwa manajemen kelas suatu upaya memberdayakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif  dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Sedangkan Menurut Johanna Kasin Lemlech, (Cece Wijaya:1994) manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menata kehidupan yang ada di kelas mulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efisiensi dan memantau kemajuan siswa serta mengantisipasi beberapa masalah yang kemungkinan timbul di kelas tersebut.[8]
Menurut Oemar Hamalik, seperti yang telah dikutip oleh Made Pidarta definisi manajemen kelas ada dua paham, yaitu paham lama dan paham baru. Paham lama mengatakan manajemen kelas hanya merupakan sebuah pertahanan kelas dengan tujuan mewujudkan ketertiban kelas. Dan paham baru mengatakan bahwa manajemen kelas merupakan suatu proses seleksi dalam menggunakan alat-alat yang tepat terhadap beberapa problema dalam perwujudan situasi kelas yang efisien.[9]


[1]. Seni Mengelola Kelas. Disadur dari Craft of the Classroom pengarang Michael Marland (Semarang: Dahara Prize, 1985),  hlm. 11
[2] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep Strategi dan Implementasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2004), cet V,  Hlm. 57
 [3] Mujamil Qomar, Op.Cit., hlm. 298.
[4] Ibid.
[5] Sudirman dkk, Ilmu Pendidikan:Kurikulum, Program pengajaran, Efek Intruksional dan pengiring, CBSA, Metode mengajar, Media pendidikan, Pengelolaan kelas dan Evaluasi hasil belajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 310-311
[6] Saiful Bakhri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif  (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 172-173
[7] Ibid.
[8] Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Op.Cit., hlm. 113
[9] Made pidarta, Pengelolaan Kelas  (Surabaya: Usaha Nasional, ___), hlm. 11

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.