Minggu, 09 Oktober 2011

Artikel Pendidikan: Jenis-jenis Motivasi

Jenis-jenis Motivasi
Secara umum, motivasi dibagi menjadi dua jenis yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik.
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan suatu motif yang timbul dari dalam diri untuk berbuat sesuatu. Menurut Sardiman (2010: 89) motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif, atau berfungsi tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. dan Usman (2004: 24) berpendapat bahwa jenis motivasi intrinsik ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri.

Kesimpulan dari definisi di atas adalah motivasi intrinsik merupakan suatu tindakan yang disebabkan oleh faktor pendorong dari dalam diri atau tidak memerlukan adanya rangsangan dari luar.

Menurut Prayitno (1989: 11) mengemukakan bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik menunjukkan keterlibatan dan aktivitas yang tinggi dalam belajar. Motivasi dalam diri merupakan keinginan dasar yang mendorong individu mencapai berbagai pemenuhan segala kebutuhan diri sendiri. Untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan dasar siswa yang bersifat alamiah dengan cara menyajikan materi yang cocok dan berarti bagi siswa.

Pada dasarnya siswa belajar didorong oleh keinginan sendiri, maka siswa secara mandiri dapat menentukan tujuan yang dapat dicapainya dan aktivitas-aktivitasnya yang harus dilakukanya untuk mencapai tujuan belajar. Seseorang
dikatakan mempunyai motivasi intrinsik karena didorong rasa ingin tahu, ia mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu, dalam belajar telah terkandung tujuan menambah pengetahuan.

Motivasi intrinsik dapat ditanamkan dan dikembangkan melalui beberapa hal berikut ini (Winkel, 2005: 182): (1) Menjelaskan kepada siswa manfaat dan kegunaan bidang studi yang diajarkan, khususnya bidang studi yang biasanya tidak menarik minat spontan, (2) Menunjukkan antusiasme dalam mengajarkan bidang studi yang diacu dan menggunakan prosedur didaktis yang sesuai dan cukup bervariasi, (3) Bilamana dimungkinkan dari segi tujuan pengajaran (isi dan jenis prestasi) melibatkan siswa dalam sasaran yang ingin dicapai, sehingga belajar di sekolah tidak sekedar dipandang sebagai kewajiban yang serba menekan, dan (4) Menciptakan iklim dan suasana dalam kelas yang dapat memenuhi kebutuhan motivasional pada siswa, baik mereka yang mengalami ketakutan yang positif maupun yang negatif.

2. Motivasi Ekstrinsik
Menurut Sardiman (2010: 91) mengemukakan, motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik dikatakan demikian karena tujuan utama individu melakukan kegiatan adalah untuk mencapai tujuan yang terletak di luar perbuatan yang dilakukanya.

Hal-hal yang dapat mendorong motivasi ekstrinsik seseorang adalah apabila seseorang belajar dengan tujuan mendapat angka yang baik, naik kelas, mendapat ijazah, untuk mencari penghargaan berupa angka, hadiah dan lainnya. Kemudian Winkel (2005: 94) mengatakan bahwa motivasi ekstrinsik merupakan aktivitas belajar yang dimulai dan diteruskan, berdasarkan kebutuhan dan dorongan yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar sendiri. Misalnya seorang siswa rajin belajar untuk memperoleh hadiah yang telah dijanjikan.

Dimyati dan Mudjiono (1994: 84) mengemukakan bahwa motivasi ekstrinsik dapat berubah menjadi motivasi intrinsik, yaitu pada saat siswa menyadari pentingnya belajar, dan ia belajar sungguh-sungguh tanpa disuruh orang lain. Hal ini sependapat dengan (Prayitno, 2005: 14) bahwa antara motivasi intrinsik dan ekstrinsik itu saling menambah atau memperkuat, bahkan motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi intrinsik. Di samping itu juga motivasi ekstrinsik dapat membangkitkan motivasi intrinsik.

Winkel (2005: 182) menyebutkan beberapa hal yang dapat menimbulkan
motivasi ekstrinsik adalah: (1) Menggunakan berbagai insentif, baik yang bertujuan supaya siswa mempertahankan perilaku yang tepat maupun yang bertujuan agar siswa
menghentikan perilaku yang tidak tepat, (2) Mengoreksi dan mengembalikan pekerjaan ulangan pekerjaan rumah dalam waktu sesingkat mungkin, disertai komentar spesifik mengenai hasil pekerjaan itu dalam bentuk kata-kata atau nilai, dan (3) Menggunakam berbagai bentuk kompetisi/persaingan dalam kombinasi dengan kegiatan belajar koperatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.