Selasa, 04 Oktober 2011

Artikel: Teori Sruktural Sastra

Telaah sastra merupakan tahap awal dalam penelitian karya sastra yang harus dilakukan untuk mengetahui karya sastra itu berkualitas apa tidak, tetapi untuk mengetahui hal tersebut tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja melainkan harus dari semua elemen secara keseluruhan. Analisis struktural merupakan salah satu cara untuk mengetahui kualitas sastra, dan merupakan jembatan untuk menganalisis makna yang terkandung dalam karya sastra. Oleh karena itu, peneliti hendaknya tidak terjebak dalam analisis struktural sebab tujuan utama dalam penelitian adalah mengkaji makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Fananie (2000: 76) penilaian karya sastra yang baik tidak hanya dinilai berdasarkan pada salah satu elemennya melainkan harus dilihat secara keseluruhan. Oleh karena itu, karya sastra yang hanya bagus dalam salah satu aspeknya, belum dapat dikatakan sebagai sastra yang berkualitas atau sastra yang baik, begitu juga sebaliknya.

Analisis struktural sastra disebut juga pendekatan objektif dan menganalisis unsur intrinsiknya, Fananie (2000: 112) mengemukakan bahwa pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Pendekatan yang dinilai dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konveni sastra yang berlaku.

Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek instrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot (setting), karakter. Yang jelas, penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan keharmonisan semua unsur pembentuknya.

Pada aspek ini semua karya sastra baru bisa disebut bernilai apabila masing-masing unsur pembentuknya (unsur intrinsiknya) yang tercermin dalam strukturnya, seperti tema, karakter, plot (setting). Bahasa merupakan satu kesatuan yang utuh. Kesatuan yang mencerminkan satu harmonisasi sebagaimana yang dituntut dalam kriteria estetik. Sebuah struktur mempunyai tiga sifat yaitu totalitas, trasformasi, dan pengaturan diri.

Transformasi yang dimaksud bahwa struktur terbentuk dari serangkaian unsur, tetapi unsur-unsur itu tunduk kepada kaidah-kaidah yang mencirikan sistem itu sebagai sistem. Dengan kata lain, susunannya sebagai kesatuan akan menjadi konsep lengkap dalam dirinya. Transformasi dimaksudkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur dan mengakibatkan hubungan antarstruktur menjadi berubah pula. Pengaturan diri dimaksudkan bahwa sruktur itu dibentuk oleh kaidah-kaidah instrinsik dari hubungan antarunsur yang akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16).
Transformasi yang terjadi pada sebuah struktur karya sastra bergerak dan melayang-layang dalam teksnya serta tidak menjalar keluar teksnya. Karya sastra sebagai sebuah struktur merupakan sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Karena itu, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan hubungan antarunsur menjadi berubah. Perubahan hubungan antarunsur pada poisinya itu secara otomatis akan mengatur diri (otoregulasi) pada posisinya semula (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16).

Struktur bukanlah suatu yang statis, tetapi merupakan suatu yang dinamis karena didalamnya memiliki sifat transformasi. Karena itu, pengertian struktur tidak hanya terbatas pada struktur (structure), tetapi sekaligus mencakup pengertian proses menstruktur (structurant) (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16). Dengan demikian, teori struktural adalah suatu disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

1. Novel
Dalam the America college dictionary (1960:830). Disebutkan bahwa novel merupakan cerita prosa yang fiktif dengan panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut (tarikan,1986 : 164)

Novel menurut Jacob sumardjo (19990 adalah cerita, dan cerita digemari oleh manusia sejak kecil. Setiap hari manusia senang dengan cerita, baik cerita faktual gurauan, atau hanya sekedar ilustrasi dalam percakapan. Novel kebanyakan mengandung suspense dalam alur ceritanya dan dapat menimbulkan penasaran bagi pembacanya.

Novel adalah salah sastu genre sastra dari Eropa yang muncul pertama kali di lingkungkan kaum borjuis inggria pada awal abad 18. Novel merupakan produk masyarakat kota yang terpelajar, mapan,dan cukup mempunyai banyak waktu luang untuk menikmatinya. Dan diindonesia novel mengalami masa pertumbuhan yang pesat pada tahun 1970 dikalangan pembaca wanita (sumardjo, 1986:3).

Novel dalam bahasa latin disebut novellus yang diturunkan dari kata novies yang berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, naka novel muncul kemudian. (Tarigan 1986 : 164). Novel juga biassa disebut novellet dalam bahasa inggris Novellete dapat diartikan sebagai karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgianto, 1995 : 9).

Pengertian novel lebih mendalam lagi dikemukakan oleh Aminudin (1995 : 66) yang menyatakan bahwa novel merupakan kisahan atau cerita yang diemban oleh perilaku0perilaku tertentu dalam pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita yang bertolak dari imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Wujud dari novel adalah konsentrasi pemusatan kehidupan dalam satu saatm dalam satu krisis yang menentukan (jasin dalam suroto 1989 : 19).

Dari beberapa pengertian tersebut sangatlah jelas vahwa novel merupakan ungkapan jiwa pengarang. Oleh karena itu dalam penciptaan sebuah karya sastra pengarang banyak dipenuhi oleh beberapa faktor. Baik faktor pengalaman yang ada dalam diri pengarang yang berasal dari kenyataan yang dihayati tokoh-tokoh, jalan cerita, maupun faktor yang hadir melalui tema yang sedang dikerjakan.

2. Unsur Intrinsik Novel
Menurut Stanton (2007:20) membagi unsur-unsur instrinsik yang dipakai dalam menganalisis struktural karya sastra diantaranya, alur, karakter, latar, tema, sarana-sarana sastra, judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme dan ironi.
a) Alur
Stanton, (2007: 26) mengemukakan bahwa alur adalah rangkaian-rangkaian dalam sebuah cerita.
b) Karakter (penokohan)
Stanton (2007: 33) mengemukakan bahwa karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita seperti ketika ada orang yang bertanya; “Berapa karakter yang ada dalam cerita itu?”. Konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu.
c) Latar
Stanton (2007: 35) mengemukakan bahwa latar (setting) adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung.
d) Tema
Stanton (2007: 36) mengemukakan bahwa tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan “makna” dalam pengalaman manusia; suatu yang menjadikan suatu pengalaman yang diangkat.
e) Sarana-Sarana Sastra
Stanton (2007: 46) mengemukakan bahwa sarana sastra dapat diartikan sebagai metode pengarang memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi.
f) Judul
Stanton (2007: 51) mengemukakan bahwa judul selalu relevan terhadap karya yang diampunya sehingga keduanya membentuk satu kesatuan. Pendapat ini dapat diterima ketika judul menuju pada sang karakter utama atau satu latar.
g) Sudut pandang
Stanton (2007: 53) mengemukakan bahwa sudut pandang adalah posisi tokoh dalam cerita.
h) Gaya dan Tone
Stanton (2007: 61) mengemukakan bahwa gaya atau tone dalam sastra adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa.
i) Simbolisme
Stanton (2007: 64) mengemukakan bahwa simbol adalah tanda-tanda yang digunakan untuk melukiskan atau mengungkapkan sesuatu dalam cerita.
j) Ironi
Stanton (2007: 71) mengemukakan bahwa secara umum ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.